Arya Fernandes
Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial, CSIS
PRESIDEN seharusnya sudah menemukan format kabinet yang tepat. Ia sudah hampir 2 tahun menjabat. Bila frekuensi reshuffle meningkat, artinya utak-atik masih terjadi. Ada yang belum mendapatkan peran di pemerintah. Ada yang belum terakomodasi.
Penentuan kabinet idealnya bukan perkara membagi alokasi kursi kepada partai pendukung dan tim sukses. Namun, memilih orang yang tepat untuk membantu presiden mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.
Tantangan Indonesia untuk menjadi negara maju berpendapatan tinggi tidak mudah. Ketimpangan ekonomi masih terasa sekali. Jarak antara penduduk miskin dan kaya sangat jomplang.
Dalam 5 tahun terakhir, Bank Dunia menunjukkan bahwa Indeks Gini (ketimpangan) kita belum turun di bawah angka 34. Pada tahun 2025, posisi Indonesia berada di angka 34,4 (dalam rentang 0-100, semakin kecil menunjukkan semakin tinggi kesetaraan).
Akses pendidikan dan kesehatan belum sepenuhnya merata. Daerah-daerah di timur dan terdepan di Indonesia memiliki Indeks Pembangunan Manusia yang rendah dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di Pulau Jawa.
Korupsi juga masih merajalela. Sudah lebih dari 10 kepala daerah yang dicokok KPK sejak dilantik pada 2025. Belum lagi sejumlah kasus korupsi besar yang ditangani oleh Kejaksaan Agung.
Competitiveness level kita juga masih rendah dibandingkan negara-negara lain di ASEAN. Laporan IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2025 menunjukkan bahwa daya saing kita lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Dari skala 0-100, skor Indonesia sebesar 64,32 (turun 13 poin dibandingkan dengan tahun 2024). Di atas, kita ada Thailand (71,32); Malaysia (74,81) dan Singapura (99,44).
Eksperimen politik melalui reshuffle sah-sah saja. Namun, di tengah tantangan domestik dan global yang semakin berat, tidak ada waktu yang tepat untuk mencoba-coba. Presiden harus yakin betul dalam memilih orang yang mampu bekerja keras serta memiliki kompetensi dan integritas.
Secara jumlah, kabinet sudah sangat gemuk. Lebih kurang 150 orang menteri/wakil menteri dan kepala badan membantu presiden. Ini eksperimen yang belum pernah ada sejak reformasi. Harusnya ini membuat kabinet bisa berlari kencang. Target-target pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 paling tidak sudah terlihat bentuknya.