JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Tekanan dari kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) serta ketidakpastian terkait status pasar saham Indonesia menjadi faktor yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi ditutup pada kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ekspektasi kelanjutan pengetatan moneter The Fed serta kekhawatiran seputar stabilitas pasar modal domestik,” ujar Ibrahim di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Tekanan eksternal terhadap rupiah meningkat setelah sejumlah pejabat The Fed kembali membuka peluang kenaikan suku bunga acuan. Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menilai pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke tingkat sasaran.
Sinyal serupa disampaikan Gubernur The Fed Christopher Waller. Dia mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika data ekonomi yang dirilis sesuai dengan perkiraan.