Perang Api di Ubud, Tradisi Usir Roh Jahat Menjelang Hari Raya Nyepi

Nyoman Astana
Peserta saling lempar bara api dalam ritual perang api menjelang Hari Raya Nyepi di Gianyar, Bali, Jumat malam (16/32018). (Foto: iNews/Nyoman Astana)

GIANYAR, iNews.id – Puluhan pemuda di Desa Adat Nagi, Ubud, Gianyar, Bali, ikut dalam perang api, Jumat malam (16/3/2018), untuk menyambut perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi yang disakralkan ini diterima dengan jiwa pengorbanan. Saling menyakiti dengan sabetan api ini dipercaya akan mengikis amarah dan dendam sehingga umat Hindu lebih siap menyambut Tahun Baru Saka 1940.

Ritual perang api diawali dengan pembakaran serabut kelapa. Puluhan pemuda Desa Adat Nagi, Ubud, Gianyar, bersiap-siap dengan bertelanjang dada untuk memulai perang. Setelah muncul bara api, suara kentongan dan gamelan dibunyikan. Ritual perang api pun dimulai.

Seluruh peserta langsung mengobrak-abrik bara api dan mengambil serabut kepala yang sudah menjadi bara api sebagai senjata. Dengan membabi buta, mereka saling sabet, pukul, dan melemparnya ke arah tubuh lawannya. Pertarungan semakin seru hingga sabetan itu menimbulkan percikan-percikan api yang bertebaran di udara.

Warga lokal dan wisatawan asing yang menonton pun harus berhati-hati karena banyak bara api yang terlempar tanpa arah. Akibat terkena sabetan, hampir seluruh peserta menderita luka bakar pada bagian kulitnya. Beberapa di antaranya terluka gores. Namun, luka itu justru diyakini sebagai bagian dari pengorbanan.

“Kalau pas tradisi nggak terasa apa-apa, nggak terasa sakit. Waktu tradisi, musuhnya nggak dipilih, terserah, siapa aja yang mau, yang melawan. Tapi tidak ada dendam di antara kami,” kata Putu Edi, salah seorang peserta perang api.

Ketua Adat Bendesa Pakraman Nagi Ubud, Ketut Marka menjelaskan, aksi saling serang dengan api ini merupakan simbol pembakaran hawa nafsu dan roh-roh jahat yang ada dalam diri manusia. Semua itu harus dinetralkan saat memasuki Tahun Baru Saka 1940. Lebih luas lagi, ritual ini dipercaya untuk membersihkan bumi dari segala malapetaka yang terjadi.

“Ritual ini untuk mengusir roh-roh jahat. Pesertanya semua masyarakat Nagi, tapi yang lebih dominan, anak-anak muda yang laki-laki. Selama ini memang tidak pernah ada dendam, memang murni untuk pelaksanaan ritual. Kalaupun luka, tidak sampai sakit, paling tiga hari sudah sembuh,” kata Ketut Marka.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
7 hari lalu

Penumpang KMP Cemerlang 55 Diduga Jatuh ke Laut di Gilimanuk, Masih Dicari Tim SAR

20 hari lalu

Viral Pria Bertudung Mencuri di Sejumlah Bar dan Restoran di Gianyar, Polisi Turun Tangan

20 hari lalu

Liburan Bersama Keluarga, WNA Inggris Tewas Tenggelam di Crystal Bay Nusa Penida Bali

23 hari lalu

Perempuan Bali Tewas di Pantai Purnama Gianyar, Diduga Jatuh ke Laut saat Ritual Melukat

29 hari lalu

World Encounter Summit 2026 di Bali, Tokoh Dunia Bahas Dampak AI Bagi Kemanusiaan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal