JAKARTA, iNews.id - Seiring dengan pertumbuhan teknologi, banyak inovasi kesehatan terbaru yang bisa ditemui. Mulai dari aspirin elektrik, plester anti-diabetes atau plester pintar, Robo Doc atau robot untuk check up kesehatan, dan lainnya.
Ilmuwan dari Google dan anak perusahaan kesehatannya, Verily telah menemukan cara baru untuk menilai risiko penyakit jantung dengan menggunakan machine learning. Dengan menganalisis pemindaian bagian belakang mata pasien, software Google dapat secara akurat menyimpulkan data, termasuk usia seseorang, tekanan darah, dan apakah mereka merokok atau tidak.
Kemudian, data tersebut bisa digunakan untuk memprediksi risiko serangan jantung dengan akurasi yang hampir sama dengan metode maju saat ini.
Algoritma ini berpotensi membuat dokter lebih cepat dan mudah menganalisa risiko kardiovaskular pasien, karena tidak memerlukan tes darah. Akan tetapi, metode ini perlu diuji lebih teliti sebelum bisa digunakan secara klinis.
Seorang peneliti medis di University of Adelaide yang mengkhususkan diri dalam analisis machine learning mengatakan, pekerjaan itu solid dan menunjukkan, bagaimana Artificial intelligence (AI) bisa membantu memperbaiki alat diagnostik yang ada.
"Mereka mengambil data yang telah ditangkap karena satu alasan klinis dan mendapatkan lebih banyak dibandingkan saat ini," katanya sebagaimana dikutip iNews.id dari The Verge, Selasa (20/2/2018).
Untuk melatih algoritma tersebut, ilmuwan Google dan Verily menggunakan machine learning untuk menganalisis kumpulan data medis yang terdiri dari hampir 300.000 pasien. Informasi itu termasuk pemindai mata dan juga data medis umum.
Layaknya semua analisis deep learning, jaringan syaraf kemudian digunakan untuk menambang informasi ini untuk pola, belajar menghubungkan tanda-tanda penghubung di scan mata dengan metrik yang diperlukan untuk memprediksi risiko kardiovaskular.