TEHERAN, iNews.id - Iran sedang dilanda aksi demonstrasi besar-besaran yang memprotes kenaikan harga barang dan dugaan korupsi yang meluas. Protes ini juga dipicu kekhawatiran keterlibatan Iran dalam konflik di kawasan Timur Tengah, seperti Suriah dan Irak.
Dilansir dari Engadget, Minggu (31/12/2017), Founder dan CEO Telegram, Pavel Durov menyatakan, pihaknya telah memblokir sebuah akun milik warga Iran karena menyerukan serangan terhadap polisi, menyusul pengaduan dari Menteri Telekomunikasi Iran Mohammad Javad Azari Jahromi.
Tidak jelas kapan saluran itu bisa kembali. Meski demikian, dari insiden tersebut Telegram tidak ingin dipandang mendukung pemerintah Iran yang bersifat menindas dan ingin memata-matai pengguna telegram di sana. Telegram tetap konsisten mempertahankan kebijakan anti-kekerasan.
Durov sangat keberatan dengan keluhan dari Edward Snowden dan lainnya bahwa dia memfasilitasi tindakan keras Iran atas perbedaan pendapat, mencatat bahwa "ribuan" saluran oposisi Iran "berkembang" di Telegram.
Sebagian besar informasi tentang apa yang sedang terjadi di Iran bertebaran di media sosial, sehingga sulit untuk mengkonfirmasinya. Demonstran lain meneriakkan "tinggalkan Suriah, pikirkan kami" dalam beberapa video yang diunggah di internet.
Sejumlah insiden di Iran sepertinya berlatar masalah ekonomi, tapi nampaknya ada maksud lain di belakangnya. Mereka berpikir dengan melakukan ini, akan membuat pemerintah tersakiti. Tapi sebetulnya ada pihak lain yang menungganginya.