Unik, Mata Ikan Ini Bisa Pancarkan Sinar Biru dan Merah

Dini Listiyani
Triplefin dalam mata spark blue (Foto: Nico K. Michiels, Uni Tübingen)

CALIFORNIA, iNews.id - Dengan panjang kurang dari 2 inci, ikan triplefin tampak tidak banyak menimbulkan ancaman. Tapi, penelitian baru menunjukkan, karnivora air ini memiliki organ langka yang bisa mengaktifkan matanya menjadi senter.

Lumba-lumba dan kelelawar menggunakan bentuk penginderaan aktif yang disebut echolocation. Penginderaan itu terjadi karena pantulan suara digunakan untuk menentukan lokasi suatu objek. Sementara itu, photolokasi, di mana cahaya yang dipantulkan digunakan untuk menyelidiki lingkungan ternyata juga dimiliki oleh hewan, meski itu sangat langka.

Sejauh ini, hanya ada tiga contoh di antara vertebrata yang memiliki kemampuan tersebut yakni ikan naga laut dalam, lanternfish, dan ikan senter. Hewan-hewan itu bisa memainkan trik dengan menggunakan 'lampu sorot' yang dilengkapi searchlights- sebuah organ cahaya khusus yang terletak di sebelah pupil.

Saat sinar Matahari jatuh di atasnya, organ ini memantulkan cahaya ke arah samping, memperbaiki penglihatan di bawah cahaya rendah. Masalahnya, ikan ini tidak memiliki kontrol atas efek ini.

Meski begitu, penelitian baru yang dipublikasi belum lama ini menunjukkan, setidaknya ada satu ikan lain yang memiliki kekuatan semacam tiga ikan yang sudah disebutkan di atas yakni Tripterygion delaisi atau dikenal sebagai triplefin. Berbeda dengan ketiga ikan yang lainnya, triplefins sebenarnya bisa mengontrol saat mata mereka menyala, dan mengarahkan sinar Matahari masuk menggunakan metode yang berbeda.

Para ilmuwan Tuebingen University yang melakukan penelitian ini tidak yakin, apakah lampu depan on-demand membantu triplefin untuk menangkap mangsa. Oleh karena itu, mereka menganggap, penelitian lebih lanjut diperlukan di sini.

Namun, para ilmuwan yakin, triplefin mampu menyalakan mata mereka saat dibutuhkan, fitur yang tidak pernah dilihat sebelumnya yang dijuluki 'controlled iris radiance', sebagaimana dikutip iNews.id dari Gizmodo, Kamis (21/2/2018).

Triplefin tumbuh sekitar 2-3 inci panjangnya dan mereka bisa ditemukan di Samudera Atlantik hingga ke laut Mediterania Barat. Mereka menyukai daerah pesisir berbatu antara kedalaman 16 kaki hingga 65 kaki dan kadang ditemukan sedalam 165 kaki, di mana cahaya rendah mulai menjadi masalah.

Triplefins relatif tidak bergerak sepanjang waktu. Namun, sesekali, triplefin akan membuat gerakan pendek dan cepat ke lokasi baru. Jika mangsa potensial terlihat, karnivora mungil akan sedikit maju sebelum melakukan pergerakan cepat.

Ketika menguntit mangsanya, mata triplefins terkadang berganti antara merah dan biru. Sebelum studi baru, ahli biologi kelautan berspekulasi, triplefin menggunakan cahaya yang dipancarkan dari mata mereka sebagai alat fotolokasi.

Penelitian baru, yang dipimpin oleh Nico Michiels merupakan upaya untuk menguji, apakah pancaran ini benar-benar diaktifkan oleh ikan. Untuk itu, tim Michiels fokus pada ocular sparks-sebuah titik pada iris tepat di bawah pupil yang dihasilkan oleh lensa spherical yang menonjol dari ikan.

Pergerakan mata kecil memungkinkan ikan mengibaskan fitur 'on' atau 'off' dalam sekejap, yang menunjukkan, properti redict ringan bukanlah efek samping, melainkan tindakan yang disengaja.

Mata bisa bersinar baik biru atau merah, yang menyajikan kesempatan eksperimental bagi para ilmuwan yang ingin mengetahui, apakah frekuensi  sparks dan rona mereka bergantung pada warna backgroun, dan jika mereka berubah dihadapan mangsa potensial.

Dalam eksperimen pertama, para ilmuwan melihat, percikap api biru lebih sering menyerang background merah, terutama saat mangsa kecil hadir dan sebaliknya.

Kombinasi komplementer ini bekerja untuk memaksimalkan kontras antara cahaya yang dipantulkan ke mangsa dan background-nya. Ikan itu mampu menerangi area sekitar 2 inci di depan mereka.

Para percobaan kedua, ilmuwan menguji ikan untuk melihat apakah mata mereka lebih sering dipicu saat mereka lapar, yang ternyata tidak demikian.

"Kami menyimpulkan, sinar iris melalui percikan mata di T, delaisi bukanlah efek samping gerakan mata. Namun disesuaikan secara adaptif dalam menanggapi konteks di mana mangsa terdeteksi," kata para peneliti dalam penelitian tersebut.

Editor : Dini Listiyani
Tags:
Artikel Terkait
Sains
16 hari lalu

Apa Itu Rathalos inagami, Laba-Laba Hantu Pertama di Indonesia? Ini Karakternya

Nasional
16 hari lalu

Laba-Laba Hantu Pertama di Asia Tenggara Ditemukan di Pulau Jawa

Sains
1 bulan lalu

Benda Bercahaya di Langit Lampung yang Viral di Medsos Bukan Meteor, Ini Alasannya!

Nasional
2 bulan lalu

Prabowo Teken Perpres Sekolah Garuda, Tingkatkan Kualitas Pendidikan hingga Ciptakan SDM Unggul

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal