YOGYAKARTA, iNews.id - Membaca ulang catatan harian perjalanan pelawat asing ke Nusantara menjadi tema ‘Borobudur Writers and Cultural Festival’ (BWCF) ketujuh yang dibuka Kamis 22 November 2018. Salah seorang penggagas BWCF, Mudji Sutrisno, mengungkapkan betapa penting catatan-catatan itu buat mengenal diri kita sebagai bangsa Indonesia yang penuh silang budaya.
"Catatan-catatan para pelawat asing itu tak pernah usang karena mampu melentikkan imajinasi tentang kemungkinan-kemungkinan saling silang yang terjadi di masa lalu dan pengaruhnya yang menjadikan kita seperti sekarang ini," ujar Mudji di Yogyakarta, Kamis 22 November 2018.
Mudji mencontohkan tulisan sastrawan India peraih Nobel, Rabindranath Tagore, yang justru menemukan kebudayaan India yang lama hilang dalam perjalanannya tiga pekan di Jawa dan dua minggu di Bali pada 1927. Tagore sempat kaget menyaksikan kisah Ramayana terpahat lengkap dalam relief di Candi Prambanan.
"Siwa sudah menjadi guru besar di Jawa," tulis Tagore dalam buku Indonesia di Mata India (Kala Tagore Melawat ke Nusantara).
Dari kumpulan surat-surat I Tsing, pengembara Tiongkok pada abad ke-7, terungkap daerah Shili Foshi yang diperkirakan kompleks Candi Muara Jambi sekarang sebagai pusat pendidikan Buddha bersama Nalanda di India. Di kompleks candi inilah, I Tsing menerjemahkan teks-teks Tripitaka sebanyak 500.000 seloka yang dibawanya dari Nalanda.
Dalam buku ‘Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma’ dari Lautan Selatan, I Tsing mencatat, "Kota Foshi berbenteng ribuan biksu Buddha yang mempelajari seperti apa yang saya saksikan di Nalanda."
Sedangkan catatan harian Ibnu Batuta, ahli geografi dari Afrika Utara, mengisahkan kerajaan Samudra Pasai di Sumatera Utara pada pertengahan abad ke-14 yang banyak dikunjungi ulama-ulama Persia. Diary Batuta menjadi saksi kejayaan Malaka sebelum keruntuhannya.
Selain buku I Tsing dan Rabindranath Tagore, tiga buku tentang pelawat asing Nusantara juga diluncurkan usai pembukaan BWCF, yaitu Suma Oriental karya Tom Pires, Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara karya Tan Ta Sen, serta Painting and Description of Batavia in Heydt's Book of 1774 karya Adolf Heuken.