JAKARTA, iNews.id - Erupsi Gunung Agung yang terjadi hingga kini, berdampak pada pariwisata di Bali. Untuk mere-covery pariwisata Pulau Dewata ini, pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp100 miliar.
Dana ini dikeluarkan karena sebesar 40 persen wisman ke Indonesia masuk melalui Bali. Akibat dari gangguan erupsi Gunung Agung, Bali kehilangan 1 juta turis pada 2017. Artinya, mengalami kerugian secara nasional sebesar Rp15 triliun.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, yang harus dilakukan sekarang adalah setulusnya mere-covery Bali. Industri pariwisata harus mulai lakukan program hot deal selama tiga bulan ini.
"Tahun depan, target wisman ke Bali 7 juta. Ini akan tercapai karena setiap bulan bisa mencapai 600 ribu pengunjung. Target ini pasti akan tercapai," ucap Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam “Jumpa Pers Akhir Tahun Kemenpar 2017”, di Balairung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (21/12/2017).
Sebelumnya, karena erupsi Gunung Agung, target enam juta wisman ke Bali tidak tercapai. Bali hanya berhasil mendatangkan sebanyak lima setengah juta wisman.
Adapun cara mere-covery Bali, salah satunya industri pariwisata menawarkan berbagai promo menarik dan mencabut travel warning. "Saya ingin ini maraton. Cabut nama Bali dari travel warning," kata Menpar.
Menurut Menpar, rencana mitigasi harus dimatangkan, pelaku wisata Bali bersepakat mendukung program hot deal. Juga komitmen mengucurkan Rp100 miliar untuk program hot deal dari Kemenpar.
"Fokus kita saat ini evaluasi setelah erupsi Gunung Agung yang terjadi pada akhir November, sekaligus persiapan recovery untuk memulihkan Pariwisata Bali yang terdampak," ujarnya.
Seperti diketahui, status Bali kini normal. Kecuali berada di radius enam hingga 10 kilometer dari atas puncak Gunung Agung. Jika terjadi hal yang lebih parah, maka sudah disiapkan beberapa solusi untuk pariwisata Bali.
"Untuk pariwisata Bali, kini sudah aman, kecuali pada radius awas. Travel warning akan dicabut dari negara yang memberlakukannya," tuturnya.