Densus 88 Amankan Pimpinan Ponpes Attaqwa Cianjur Terkait Aksi Ricuh 22 Mei

Mochamad Andi Ichsyan ยท Sabtu, 25 Mei 2019 - 10:02 WIB
Densus 88 Amankan Pimpinan Ponpes Attaqwa Cianjur Terkait Aksi Ricuh 22 Mei

Suasana di Ponpes Attaqwa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (25/5/2019). (Foto: iNews/Mochamad Andi Ichsyan)

CIANJUR, iNews.id – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri mengamankan Ustaz Umar Burhanudin, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Attaqwa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar), Jumat (24/5/2019). Penangkapan tersebut diduga terkait penemuan amplop dari santri saat kerusuhan aksi 22 Mei lalu.

Penangkapan Ustaz Umar Burhanudin oleh Densus 88 dibenarkan oleh Sekretaris Ponpes Attaqwa, Sobihin. Ustaz Umar diamankan dari pondok pesantrennya, Jalan Muhammad Ali Noor 7b, Cikidang, Kabupaten Cianjur.

Tim Densus 88 tidak membawa barang bukti saat itu. Sementara Uztaz Umar didampingi oleh pengacara dan keluarga. Bahkan, Densus juga sempat mengajak makan Ustaz Umar di sebuah restoran di Kota Cianjur untuk berbuka puasa. Setelah itu, tim membawanya langsung ke Jakarta.

“Ya betul, saya mendapat informasi dari sekretaris Ustaz. Posisinya sedang berada di Ponpes Attaqwa. Beliau didampingi tim pengacara dan keluarga. Ustaz Umar juga menerima saja, pasrah karena posisinya untuk memperjuangkan santri yang ditangkap dan tidak bersalah. Di Jakarta juga ada tim pengacara yang membantu,” kata Sobihin.

BACA JUGA:

Polisi Amankan Ambulans Berisi Sajam dan Amplop Milik Kelompok Terafiliasi ISIS

Polri Ungkap Dua Tersangka Kerusuhan Aksi 22 Mei Diduga Terafiliasi ISIS

Ponpes Attaqwa menduga penangkapan Ustaz Umar ini merupakan pengembangan dari dua santrinya yang tertangkap saat aksi kerusuhan 22 Mei lalu di Jakarta. Polisi menemukan beberapa amplop dari santri Ponpes Attaqwa sehingga menduga aksi yang rusuh itu dibiayai oleh Ustaz Umar.

Namun, pihak Ponpes Attaqwa membantah tuduhan polisi tersebut. Pihak pesantren menjamin amplop tersebut merupakan uang imbalan atau hadiah bagi santri yang menjadi imam tarawih di ponpes. Uang itu biasanya akan dibagikan di akhir Ramadan. Hal itu sudah rutin dilakukan Ustaz Umar di bulan Ramadan, setiap tahunnya.

“Jumlah insentifnya beda-beda, ada yang Rp200.000, Rp300.000, Rp500.000, tergantung tugasnya. Jadi Ustaz Umar tidak ada membiayai aksi itu. Saya jamin 100 persen. Karena Ustaz Umar datang ke Jakarta ingin aksi damai, ingin membela keadilan, itu saja, tidak ada niat membuat kerusuhan,” katanya.

Namun, mereka juga menyayangkan para santrinya yang membawa amplop tersebut saat aksi 22 Mei di Jakarta. Kemungkinan, mereka tidak sengaja membawanya.

“Karena mungkin mendadak ke Jakarta, sehingga terbawalah amplop itu oleh santri saat berangkat. Seharusnya memang ditinggalkan di Cianjur. Saya juga kaget, kok amplop yang akan dibagikan di Cianjur dibawa ke Jakarta. Tapi saya jamin itu 100 persen, uang itu bukan untuk pendemo,” katanya.

Selain itu, pihak ponpes juga menyayangkan sikap pihak petugas kepolisian yang menangkap santri Ustaz Umar yang masih di bawah umur. Apalagi, keduanya disebut diitangkap saat berada di mobil ambulans di kawasan Petamburan Jakarta.

“Ada dua orang dari tim kesehatan yang membawa pasien dari Petamburan ke rumah sakit dan masih lancar. Ketika dari rumah sakit ingin kembali ke Petamburan, di tengah jalan, mereka dicegat oleh sekelompok orang yang mengaku Brimob, langsung menodongkan senjata dan menyuruh santri keluar,” kata Sobihin.


Editor : Maria Christina