Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadwal Buka Puasa Ambon dan Sekitarnya Hari Ini 13 Maret 2026
Advertisement . Scroll to see content

Pakar Ingatkan Masyarakat Jangan Konsumsi Kepala Ikan, Ini Alasannya

Sabtu, 27 Oktober 2018 - 16:12:00 WIB
Pakar Ingatkan Masyarakat Jangan Konsumsi Kepala Ikan, Ini Alasannya
Masyarakat Pulau Buru memprotes penggunaan mercuri dan sianida dalam aktivitas pertambangan emas di Gunung Botak. Saat ini, masyarakat juga takut mengonsumsi ikan karena diduga sudah tercemar sianida dan mercuri. (Foto: Dok iNews)
Advertisement . Scroll to see content

AMBON, iNews.id – Pakar kimia dan lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Justinus Male mengingatkan agar masyarakat Maluku, khususnya di Pulau Buru dan Pulau Ambon, tidak mengonsumsi kepala maupun tulang ikan. Dua bagian ikan itu dinilai berbahaya karena sudah mengandung bahan beracun mercuri dan sianida.

“Bahan beracun seperti mercuri dan sianida itu biasanya mengendap di dalam sumsum tulang dan kepala ikan. Kebiasaan mengonsumsi bagian ikan ini akan berbahaya untuk jangka panjang,” kata Justinus, di Ambon, Sabtu (27/10/2018).

Peringatan yang disampaikan pakar lingkungan dan kimia ini bukan tanpa alasan. Hasil penelitian terhadap sejumlah sampel ikan, baik yang diambil dari pasar di Namlea, Kabupaten Buru, maupun di perairan Laut Latuhalat, Pulau Ambon, sudah tercemar merkuri dan sianida.

Justinus telah melakukan penelitian ini sejak 2015, pascamaraknya aktivitas penambangan emas ilegal di Gunung Botak, Gogorea, dan Anahoni yang menggunakan berton-ton mercuri dan sianida. Langkah ini diambil Justinus dengan mengumpulkan dana melalui baazar roti karena tidak ada dukungan dana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan Kabupaten Buru.

Menurut dia, limbah-limbah beracun dan berbahaya ini dibuang ke Sungai Anahoni dan Waeapu. Selanjutnya, limbah mengalir sampai ke kawasan Teluk Kayeli yang banyak dikelilingi hutan mangrove.

Setelah mengendap di daerah hutan mangrove, endapan lumpur mengandung B3 ini dimakan mikroba-mikroba kecil, plankton, dan zooplankton. Selanjutnya terjadilah proses rantai makanan yang berujung dimakan kepiting, ikan kecil dan ikan besar, sampai akhirnya dikonsumsi manusia.

“Ikan dari perairan laut di sekitar Teluk Kayeli ini tidak selamanya menetap di sana, namun bermigrasi dan menyebar ke mana-mana. Kondisi seperti inilah yang membahayakan kesehatan manusia,” paparnya.

Karena itu, masyarakat diingatkan kalau membeli ikan segar di pasar, harus membuang kepala dan tulang serta isi perutnya. Sebab, di situlah mengendap bahan beracun mematikan.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut