Gunung Sinabung Kembali Erupsi, Ketinggian Kolom Abu Capai 7.000 Meter

Stepanus Purba ยท Minggu, 09 Juni 2019 - 17:32 WIB
Gunung Sinabung Kembali Erupsi, Ketinggian Kolom Abu Capai 7.000 Meter

Visual Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut, pascaerupsi, Minggu (9/6/2018). (Foto: iNews.id/Stepanus Purba)

KARO, iNews.id – Gunung api Sinabung, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), kembali mengalami erupsi, Minggu (9/6/2019), sekitar pukul 16.28 WIB. Ketinggian kolom abu mencapai sekitar 7.000 meter dari puncak gunung atau 9.460 meter dari atas permukaan laut.

Kepala Pos Pemantau Gunung Sinabung Armen Putra mengatakan, saat erupsi, Gunung Sinabung teramati mengeluarkan kolom abu berwarna hitam dengan intensitas yang tebal. Kolom abu condong menuju Selatan.

“Durasi erupsi terpantau selama 9 menit 17 detik dengan amplitudo maksimal 120 mm sebagaimana terekam di seismograf,” kata Armen Putra.


BACA JUGA: Erupsi, Gunung Sinabung Luncurkan Awan Panas 2.000 Meter


Sinabung juga meluncurkan awan panas dan mengeluarkan suara gemuruh yang cukup besar. Awan panas meluncur ke arah Tenggara sejauh 3,5 kilometer (km) dan ke arah Selatan sejauh 3 km. “Terdengar suara gemuruh hingga ke Pos Pengamatan Gunung Sinabung,” ujar Armen.

Menurut Armen, erupsi ini akan menyebabkan hujan abu di daerah sekitar kaki Gunung Sinabung. Karena itu, warga yang beraktivitas di luar rumah diimbau untuk menggunakan masker.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk mengamankan sarana air bersih dan membersihkan paparan debu untuk mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan,” katanya.

Selain itu, Armen mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak memasuki zona larangan yang sudah ditetapkan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG). Bagi masyarakat dan wisatawan diminta tidak memasuki radius 3 km dari puncak Gunung Sinabung. Kemudian, radius 5 km dari sektor Selatan-Timur dan 4 km untuk sektor timur-utara dari puncak gunung.

“Kami juga meminta masyarakat yang tinggal di hulu Sungai Lau Borus untuk tetap waspada mengingat potensi banjir lahar dingin masih mengintai masyarakat,” katanya.


Editor : Maria Christina