Kulonprogo Terapkan Larangan Pajang Produk Rokok

Kuntadi ยท Senin, 03 Desember 2018 - 19:45 WIB
Kulonprogo Terapkan Larangan Pajang Produk Rokok

Ilustrasi. (Foto: Okezone).

KULONPROGO,iNews.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo, Provinsi DIY, terus melakukan inovasi dalam pembatasan konsumsi rokok di masyarakat.

Setelah terbitnya peraturan daerah (Perda) kawasan tanpa rokok (KTR), dan larangan iklan rokok di ruang publik. Kini, toko mini market tak boleh memajang rokok di belakang kasir.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan, ini berlaku bagi semua Tomira (toko berjejaring yang bergabung dengan koperasi). Sebagai gantinya, display belakang kasir justru dipasang papan imbauan kesehatan.

"Kami tidak melarang penjualan rokok, hanya membatasi iklan dan display produk," kata Hasto usai meluncurkan pesan hidup sehat pengganti display rokok di Tomira yang ada di Jalan Chudori, Wates, Kulonprogo, Senin (3/12/2018).

BACA JUGA: Heboh Siswa SD di Sukabumi Dihukum Merokok, Ini Kata Bupati

Tomira merupakan toko milik rakyat, yang dibentuk dari toko berjejaring seperti Alfamart dan Indomart yang bekerjasama dengan koperasi sebagai pemilik saham.

Menurut Hasto dengan penutupan display produk rokok dan diganti dengan tulisan peduli kesehatan, diharapkan bisa mengurangi tingkat konsumsi rokok di Kulonprogo.

Belanja rokok di Kulonprogo setiap tahunnya mencapai Rp96 miliar pada lima tahun kemarin. Saat ini diperkirakan sudah meningkat mencapai Rp100 miliar.

"Harapan kita masyarakat akan lebih memikirkan kesehatan, BPJS dengan menutup produk dengan display kesehatan seperti ini," tuturnya.

Kasubdit Penyakit Paru-paru, Kronik dan Gangguan Imonologi (PPKGI) Kementerian Kesehatan, Sandra Diah Ratih mengatakan, Kabupaten Kulonprogo menjadi salah satu daerah yang menerapkan program KTR dan larangan iklan rokok.

"Kulonprogo telah menjadi contoh dalam penerapan KTR di Indonesia," jelasnya.

Penutupan iklan dan display rokok akan sangat berdampak terhadap psikologis konsumen. Selama ini orang yang akan membayar di kasir langsung fokus dengan produk rokok yang ada di belakang kasir.

BACA JUGA: Mau Berhenti Merokok, Manfaatkan Layanan Dinkes Bandung di 5 Puskesmas

Namun dengan penutupan produk ini, diharapkan warga akan lebih sadar untuk mengurangi konsumsi rokok.

"Dulu anak datang ke toko akan melihat produk rokok, sekarang akan melihat pesan kesehatan yang menghindari rokok," jelasnya.

Menurutnya, tingkat kesadaran masyarakat uintuk ikut BPJS masih rendah. Dengan premi yang hanya Rp25 ribu mereka masih keberatan. Padahal untuk membeli rokok, dalam sehari bisa mencapai lebih dari Rp20 ribu.

"Di negara barat itu, konsumsi rokok sudah turun," jelasnya.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal