120 Hotel Dan Restoran di Yogyakarta Sempat Tutup Saat Pandemi, Bagaimana Kondisinya Sekarang?
JAKARTA, iNews.id - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut 120 hotel dan restoran di Yogyakarta sempat ditutup bahkan gulung tikar saat pandemi Covid-19.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) PHRI DIY, Deddy Eryono, mengatak saat ini sebagian besar hotel dan restoran yang ditutup saat pandemi sudah beroperasi dengan okupansi mencapai 85 persen.
"Hanya 9 hotel dan restoran yang belum dibuka, masing-masing 6 hotel dan 3 restoran. Hotel yang masih ditutup memiliki 150 kamar, sehingga tidak signifikan mempengaruhi jumlah okupansi kamar kamar hotel di Yogyakarta," kata Deddy, dalam keterangan dikutip Sabtu (25/2/2023).
Menurut dia, total ada 5.000 kamar dari hotel lama ditambah hotel baru di Yogyakarta. Di DIY ada 488 hotel di mana sekitar 300 hotel non bintang yang menjadi anggota PHRI.
PHRI Harap Pencabutan PPKM Jadi Angin Segar bagi Pariwisata Kota Batu
Dia menuturkan, sebagian besar hotel dan restoran di DIY yang ditutup selama pandemi disebabkan ketiadaan tamu atau pengunjung.
Dalam dua tahun selama pandemi, bisnis hotel dan restoran sempat kelimpungan meneruskan operasional dan tetap bertahan dengan melakukan berbagai efisiensi. Pengurangan karyawanpun dilakukan atau dengan menggilir karyawan yang bekerja.
PHRI DKI Jakarta Sebut Usaha Hotel dan Restoran Tidak Optimal saat Nataru, Ini Penyebabnya
"Namun tak sedikit hotel dan restoran akhirnya tutup dan memilih menghentikan operasionalnya. Para karyawan diberhentikan sementara demi mempertahankan bisnis, tapi ada yang benar-benar gulung tikar," ungkap Deddy.
Seiring dengan semakin pulihnya kondisi sejak triwulan kedua tahun 2022, bisnis pariwisata mulai menggeliat. Hal ini berdampak pada bisnis hotel dan restoran juga turut bangkit.
Kebijakan pemerintah mulai mengurangi level PPKM dan akhirnya mencabutnya membuat mobilitas masyarakat kembali hidup. Puncaknya pada akhir tahun 2022, okupansi bahkan melonjak hingga lebih dari 100 persen. Bahkan bisnis hotel dan restoran kini tengah menikmati masa keemasannya karena tingkat huniannya yang cukup menggembirakan.
"Di bulan Februari ini huniannya mencapai 85 persen dari biasanya 40 persen, tetapi memang masih ada hotel dan restoraj yang belum beroperasi," ujar Deddy.
Dia menyebut hotel-hotel yang belum beroperasi tersebut karena masih mengalami kesulitan keuangan di samping memang juga terjerat hutang bank yang belum mampu mereka lunasi. Sehingga memaksa mereka tetap menutup usahanya.
Dia mengakui dari ratusan hotel dan restoran yang awalnya tutup dan kini buka kembali karena beralih pemilik. Namun tak sedikit yang beroperasi dengan pemilik sama meskipun belum sepenuhnya seperti sebelum pandemi.
"Pemilik masih ada yang terjun sendiri melayani tamu atau jumlah karyawan belum seperti sebelum pandemi Covid19," tutur Deddy.
Editor: Jeanny Aipassa