4 Taipan Internet China Rugi Rp196 Triliun Sehari
BEIJING, iNews.id - Sejumlah taipan internet China menderita kerugian besar pada Senin (26/7/2021). Total kerugian dari empat miliarder tersebut mencapai 13,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp196,72 triliun hanya dalam satu hari.
Keempat miliarder itu, yakni pendiri Meituan Wang Xing, Kepala Eksekutif NetEase Williang Ding, pendiri Pinduoduo Colin Zheng Huang, dan Ketua dan CEO Tencent Pony Ma atau Ma Huateng. Kerugian yang diderita karena aksi jual saham teknologi dan pendidikan yang menyebar ke sektor lain akibat pemerintah memperketat pengawasan praktik monopoli (anti-trust).
"(Tindakan keras) adalah kelanjutan dari kebijakan antimonopoli sebelumnya dan menghentikan ekspansi modal yang tidak teratur. China juga ingin mengurangi ketidakpuasan di antara faksi-faksi yang berbeda di masyarakat, dan mengurangi tekanan secara keseluruhan," kata Direktur Chanson and Co Shen Meng, dikutip dari Forbes, Selasa (27/7/2021).
Misalnya, regulator berusaha mengadopsi perlindungan untuk melindungi kurir makanan dengan mengharuskan perusahaan membayar asuransi lebih mahal dan memastikan kurir mendapatkan upah di atas minimum karena jam kerja yang panjang dan kondisi berbahaya. Hal itu membuat saham raksasa pengiriman makanan yang didukung Tencent, Meituan yang telah berjanji mematuhi aturan anti-trust, jatuh sebesar 10 persen di Hong Kong pada Selasa, setelah anjlok 14 persen sehari sebelumnya.
Saham Tencent, yang juga mendukung pasar online Pinduoduo, terkoreksi 5 persen di Hong Kong hari ini, setelah regulator memerintahkan perusahaan untuk menyerahkan hak cipta musik eksklusif. Perusahaan telah berjanji untuk mematuhi aturan tersebut.
Sementara itu, pemerintah China juga berusaha meringankan beberapa beban keuangan orang tua dengan menargetkan bimbingan belajar (bimbel). Sektor ini pernah tumbuh pesat ketika siswa belajar online selama pandemi.
Unit pembelajaran online NetEase yang terdaftar di Bursa New York, Youdao kehilangan lebih dari 60 persen nilai pasarnya selama tiga hari perdagangan terakhir. Saham emiten pendidikan China yang terdaftar di AS, Gaotu Techedu, TAL Education dan New Oriental Education & Technology semuanya jatuh dengan jumlah yang sama, setelah regulator meluncurkan serangkaian aturan selama akhir pekan.
Aturan melarang perusahaan bimbel yang mengajar kurikulum sekolah tidak mengambil keuntungan, serta berhenti menawarkan kursus selama akhir pekan dan selama liburan sekolah. Perusahaan juga dilarang go public atau menambah modal.
“Agar tetap terdaftar, mereka mungkin perlu memisahkan bisnis yang melanggar aturan pemerintah,” kata Tommy Wang, analis China Merchants Securities yang berbasis di Hong Kong.
Menurut Shen Chanson and Co, dalam lingkungan yang tidak pasti ini, investor asing akan mempertimbangkan risiko kebijakan dan menilai kembali prospek untuk berinvestasi di perusahaan China. Tindakan keras terhadap perusahaan pendidikan, misalnya telah membuat investor global mulai dari SoftBank hingga Temasek berjuang menemukan solusi.
Mereka termasuk di antara investor yang telah berinvestasi besar pada startup pendidikan China seperti Yuanfudao, Zuoyebang dan Yi Qi Zuo Ye, yang sekarang juga menjadi sasaran pengawasan peraturan yang ketat dari regulator china.
Editor: Jujuk Ernawati