AEI Ungkap 3 Ancaman Pasar Modal RI: Geopolitik, Yen hingga El Nino
JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) mengingatkan pasar modal Indonesia menghadapi sejumlah risiko global, mulai dari memanasnya geopolitik, gejolak pasar akibat unwinding yen, hingga ancaman El Nino yang berpotensi mengerek harga pangan dan energi.
Ketua Umum AEI Armand Wahyudi Hartono menilai perkembangan tersebut perlu dicermati perusahaan tercatat dan pelaku pasar. Gejolak global dapat dengan cepat memengaruhi kondisi pasar keuangan.
"Coba bayangkan panasnya geopolitik, dua minggu terakhir adanya unwinding dari Yen, dan mulai bulan ini dan ke depan adanya El Nino major," kata Armand dalam Musyawarah Anggota AEI 2026, dikutip Rabu (12/8/2026).
Menurut Armand, El Nino yang memicu kemarau panjang dan suhu ekstrem berpotensi memberikan tekanan terhadap harga pangan dan energi dunia. Pergerakan harga komoditas tersebut kemudian dapat berdampak terhadap pasar modal secara global.
"Kalau memang benar ini musim kemarau panjang, panas yang teramat, bisa di-impact ke global food price, global short-term, short-term lost, dan pangan, energi, semuanya, berdasarkan persamaan, bisa tentunya ada pengaruh ke pasar modal itu sendiri secara global," lanjut Armand.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Armand melihat masih ada peluang bagi perusahaan yang mampu mempertahankan kepercayaan investor.
Menurut dia, emiten dengan kinerja sehat, tata kelola yang kuat, serta kondisi keuangan transparan memiliki fondasi lebih baik saat pasar menghadapi gejolak."Tentunya yang akan survive dan kita lihat di situasi seperti ini, memang banyak tantangan, namun menjadi opportunity bagi yang bisa dipercaya di situasi tersebut," ucapnya.
Armand meminta perusahaan tercatat menjaga kinerja secara berkelanjutan dan memperkuat tata kelola. Kondisi keuangan juga perlu disampaikan secara transparan kepada investor.Komunikasi dengan investor menjadi aspek lain yang dinilai penting. Emiten perlu memastikan janji serta komitmen kepada pasar dapat dipenuhi.
Armand turut menyoroti persaingan pasar modal Indonesia dengan bursa global. Dia mencontohkan pasar Korea Selatan dan Taiwan yang dalam enam bulan terakhir mengalami penguatan seiring tingginya minat investor terhadap sektor kecerdasan buatan atau AI dan microchip.
Dia menyebut kenaikan saham perusahaan teknologi besar seperti Samsung, SK Hynix, dan TSMC menjadi gambaran cepatnya perpindahan modal global menuju sektor yang sedang menjadi perhatian investor.
Namun, penguatan pasar yang berlangsung cepat juga menyimpan risiko koreksi. Armand menyinggung saham perusahaan terkait microchip dan memori di Amerika Serikat, termasuk Micron Technology, yang sempat mencatat kenaikan signifikan.
Kondisi tersebut kemudian ikut mendorong aktivitas margin trading sebelum berbalik terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan tersebut turut dirasakan investor di Korea Selatan dan Taiwan.
"Namanya pasar selalu melewati siklus-siklus seperti itu, tidak bisa dihindarkan. Tapi untuk kita harus selalu belajar dari pasar manapun di global. Terima fakta bahwa yang namanya capital market itu bisa ke mana aja di global melihat mana yang lagi paling cantik," sebutnya.
Editor: Puti Aini Yasmin