AS Berlakukan Sanksi ke Iran, Harga Minyak Bervariasi
NEW YORK, iNews.id - Harga minyak bervariasi pada akhir perdagangan Senin (5/11/2018), setelah jatuh selama lima hari, karena Amerika Serikat (AS) secara resmi memberlakukan sanksi-sanksi terhadap Iran tetapi memberi delapan negara keringanan sementara yang memungkinkan mereka tetap membeli minyak dari Republik Islam itu.
Sanksi-sanksi tersebut adalah bagian dari upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengekang program rudal dan nuklir Iran dan mengurangi pengaruhnya di Timur Tengah.
Pasar minyak telah mengantisipasi sanksi tersebut selama berbulan-bulan. Harga telah berada di bawah tekanan karena produsen utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, telah meningkatkan produksi mendekati tingkat rekor, sementara angka ekonomi yang lemah di China telah meragukan prospek permintaan. Berita tentang keringanan sanksi-sanksi telah menekan harga, kata para analis.
"Ada banyak pertanyaan tentang sanksi-sanksi, tentang keringanan," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago. "Ada beberapa keraguan bahwa sanksi-sanksi akan memiliki tekanan keras seperti yang awalnya dipikirkan oleh pasar."
Minyak mentah Brent berjangka naik 34 sen AS menjadi menetap di 73,17 dolar AS per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 4 sen AS menjadi 63,10 dolar AS per barel.
Kedua patokan minyak telah merosot lebih dari 15 persen sejak mencapai tertinggi empat tahun pada awal Oktober. Hedge fund telah memangkas taruhan bullish pada minyak mentah ke level terendah satu tahun.
AS telah memberikan pengecualian kepada China, India, Yunani, Italia, Taiwan, Jepang, Turki, dan Korea Selatan, yang memungkinkan mereka untuk sementara bisa terus membeli minyak Iran, kata Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, Senin. Beberapa negara adalah pelanggan teratas anggota OPEC Iran.
Sanksi-sanksi telah merugikan miliaran dolar Iran dalam pendapatan minyak sejak Mei, Wakil Khusus AS untuk Iran Brian Hook mengatakan kepada wartawan pada Senin (5/11/2018). Iran mengatakan pada Senin (5/11/2018) akan melanggar sanksi-sanksi tersebut dan terus menjual minyak ke luar negeri.
Kementerian luar negeri China menyatakan penyesalan atas langkah AS.
Data dari perusahaan analisis Kayrros menunjukkan produksi minyak mentah Iran secara luas tidak berubah pada Oktober dari September, dengan barel-barel masih mencapai pasar bersama produksi tambahan dari Arab Saudi dan Rusia.
Editor: Ranto Rajagukguk