Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pramono Perpanjang WFH dan PJJ di Jakarta hingga 1 Februari 2026
Advertisement . Scroll to see content

Beras Petani Mulai Masuk Pasar tapi Harga Masih Mahal, Kenapa?

Jumat, 24 Februari 2023 - 19:30:00 WIB
Beras Petani Mulai Masuk Pasar tapi Harga Masih Mahal, Kenapa?
Beras petani mulai masuk pasar tapi harga masih mahal. Foto: Advenia E
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ketua Umum Koperasi Pasar Beras Induk Cipinang Zulkifli Rasyid mengatakan, beras hasil panen petani sudah mulai masuk ke pasar pada minggu ini. Namun kualitas beras yang dihasilkan kurang bagus dan harganya masih mahal.

Pria yang akrab disapa Zul itu menjelaskan, kualitas beras kurang bagus karena pengaruh cuaca buruk. Cuaca yang buruk mengakibatkan kadar air  beras mencapai 17 persen, padahal normalnya maksimal 14 persen. 

“Beras panen sudah mulai masuk (minggu ini), jadi panen itu sudah mulai masuk, tapi dengan catatan yang pertama kualitasnya kurang bagus karena kadar airnya tinggi, sampai 17 persen, dan harga pun juga masih tinggi,” kata dia, Jumat (24/2/2023). 

Akibat kondisi cuaca yang tidak lekas membaik, dia mengatakan, beras hasil panen juga tidak banyak. Hal itu karena para petani kesulitan mengeringkan gabah yang basah karena terkena hujan. 

Dia menambahkan, meski beberapa petani besar memiliki pabrik penggilingan yang mengandalkan oven untuk mengeringkan gabah, namun karena jumlahnya banyak, petani kewalahan sehingga masuk ke pasar menjadi terhambat. Meski begitu, Zul menyebut kuantitas beras hasil panen petani akan meningkat signifikan pada akhir Maret mendatang. 

“Cuaca yang tidak menentu sekarang ini sangat menghalangi masa panen. Karena apa? Kalau cuacanya hujan terus kita tidak bisa jemur,” tuturnya. 

"Walaupun beberapa pabrik besar mempunyai oven untuk mengeringkan padi, tapi itu tidak sebagus hasil padi yang dikeringkan dengan terik matahari, jadi hal itu mendorong panen jadi terhambat," imbuhnya.

Sementara karena kuantitas beras yang terbatas serta distribusi yang terhambat, sehingga berdampak pada mahalnya beras panen di pasaran. Dia menyebut harga beras panen rata-rata dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) pemerintah.

“Jadi belum bisa kembali harga seperti semula seperti di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk kuantitas juga belum banyak,” ucapnya.

Untuk harga beras saat ini, menurutnya, masih tinggi. Bahkan harga beras medium I tembus Rp15.000 per kilogram di sejumlah provinsi. 

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut