Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Daftar Harga BBM Pertamina 15 Januari 2026, Lengkap di Seluruh SPBU
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Rp16.000 per Liter, Ini Harga Pertamax yang Wajar Versi Pengamat

Rabu, 30 Maret 2022 - 15:43:00 WIB
Bukan Rp16.000 per Liter, Ini Harga Pertamax yang Wajar Versi Pengamat
Konsumen menggunakan BBM nonsubsidi jenis Pertamax seiring semakin langkanya BBM bersubsidi, Pertalite. (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - PT Pertamina (Persero) mengatakan masih mengkaji kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax, meskipun santer dikabarkan harga terbaru akan diberlakukan per 1 April 2022. 

Mengutip laman Kementerian ESDM, Rabu (30/3/2022), harga keekonomian Pertamax untuk bulan Maret 2022 mencapai Rp14.526 per liter. Pada April 2022, harga keekonomian Pertamax diprediksi mencapai Rp16.000 per liter. Saat ini, Pertamax dijual seharga Rp9.000 hingga Rp9.500 per liter. 

Pengamat Energi Universitas Gajah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengatakan jika mengikuti harga keekonomian, seharusnya Pertamax dibanderol minimal Rp14.500 per liter, bukan Rp16.000 per liter.

Penentuan harga keekonomian tersebut didasari harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Minyak dunia yang meroket berimbas pada Indonesia Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia.

"Pada kisaran berapa, kalau kita melihat harga BBM RON 92 di (penyedia) BBM asing seperti Shell itu sudah di atas Rp14.500 per liter, oleh karena itu besarannya ya kira-kira segitu," ujar Fahmy, kepada MNC Portal Indonesia beberapa waktu lalu.

Sejak akhir tahun 2021, ICP memang merangkak naik, dan makin meningkat sejak akhir Februari saat konflik Ukraina dan Rusia. ICP sementara bulan Maret 2022 per tanggal 24 ialah 114,55 dolar AS per barel, padahal per tanggal 1 Maret masih 110,14 dolar AS per barel.

Di sisi lain, Kementerian ESDM belum memutuskan langkah antisipasi tingginya terkait harga minyak ini. "Jadi sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bapak Menteri ESDM, saat ini kita masih mencermati harga minyak ini, karena kalau berkepanjangan memang bebannya berat juga baik ke APBN, Pertamina dan sektor lainnya," ungkap Fahmy.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut