Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Arus Balik Nataru 2026, 46.800 Penumpang Tiba di Jakarta
Advertisement . Scroll to see content

Cerita Dirut KAI: Gerbong Kereta Buatan INKA Banyak yang Retak

Rabu, 08 Juli 2020 - 18:00:00 WIB
Cerita Dirut KAI: Gerbong Kereta Buatan INKA Banyak yang Retak
Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengeluhkan kualitas gerbong kereta buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Sebab, gerbong kereta hasil produksi ini banyak yang retak. 

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan, hal ini sangat mengkhawatirkan bagi perusahaan. Pasalnya, 90 persen dari gerbong yang ada merupakan produksi dari INKA.

"Kami sampaikan bahwa dari sarana kita itu mayoritas dari INKA, hampir 90 persen. Kami sekarang ini sedang menghadapi masalah dengan INKA karena ada permasalahan gerbong retak," ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (8/7/2020). 

Didiek mengaku sudah menyampaikan hal ini kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bahkan, Wakil Menteri BUMN I Budi Gunadi Sadikin bersama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga sudah menggelar pertemuan untuk mencari jalan keluar atas keretakan gerbong kereta buatan INKA.

"Itu jumlahnya signifikan dan ini sedang kami selesaikan. Kami ditengahi BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan)," ujarnya.

Didiek melanjutkan, KAI akan tetap mendukung Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sejumlah proyek dan pengadaan kereta. Namun, harus ada relaksasi harga yang diberikan agar bisa kompetitif dengan produk asing. 

Pemerintah menilai, jika ekonomi domestik ingin bergairah, TKDN dan substitusi impor memang harus ditingkatkan. Tak ketinggalan pemerintah juga tengah menggairahkan kembali mendorong sektor pariwisata.

Namun, bila kewajiban TKDN ini semakin besar, produk dalam negeri justru semakin tidak kompetitif. "Jadi kalau ada TKDN di atas 25 persen, maka harga domestik bisa lebih mahal 25 persen dibandingkan dgn harga asing. Kami sepakat," jelas Didiek.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut