Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Anak Demam Tinggi Mendadak di Musim Hujan, Waspada Demam Berdarah!
Advertisement . Scroll to see content

Dokter Ini Banting Stir Jadi Pengusaha Alkes Merek Onemed, Kini Sukses dengan Omzet Triliunan

Selasa, 16 Agustus 2022 - 15:00:00 WIB
Dokter Ini Banting Stir Jadi Pengusaha Alkes Merek Onemed, Kini Sukses dengan Omzet Triliunan
Dokter Jemmy Hartanto, Owner dan CEO Onemed Group
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Menjadi dokter adalah profesi mulia dan memiliki penghasilan yang cukup mapan. Itu sebabnya, jarang ada dokter yang memilih banting stir dari profesinya. 

Namun hal itu tak berlaku bagi dokter Jemmy Hartanto. Meskipun sudah cukup mapan menjadi dokter, pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Tahun 1981, memilih banting stir ke bisnis alat kesehatan (alkes). 
 
Pemicunya karena sebagai dokter dia prihatin dengan kondisi stok obat dan alat kesehatan yang sangat terbatas. Bahkan jarum suntik ada yang dipakai untuk beberapa pasien, hanya distrerilkan dengan alkohol.   

Ketika ditugaskan di Kanwil Kesehatan di Surabaya, dokter Jemmy Hartanto akhirnya mengetahui bahwa hampir 90 persen alkes dan obat-obatan di Indonesia diimpor dari luar negeri. 

Awal mula dokter Jemmy Hartanto terjun ke bisnis alkes adalah dengan membeli apotik. Uagnya dari hasil menabung selama menjadi dokter di Puskesmas di Jember hingga pindah ke Surabaya. 

Pada 1995, dokter Jemmy Hartanto mendirikan perusahaan distibutor alat kesehatan. Dari sini, dia mempelajari jaringan bisnis alkes dan akhirnya memutuskan mundur sebagai dokter Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1998> Di tahun ini, dia mendaftarkan merek Onemed untuk alat kesehatan, di mana produk pertama yang menggunakan merek tersebut adalah alat tes kehamilan. 

Setelah terjun ke bisnis alkes, dokter Jemmy Hartanto banyak berkenalan dengan pengusaha alkses di ASEAN. Dia kemudian mengetahui bahwa industri alkes di beberapa negara ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand sangat maju. 

Dia kemudian berkunjung ke pabrik alkes di Malaysia dan Thailand, dan tertarik untuk mendirikan pabrik untuk memproduksi alkes sendiri, meskipun sambil menjalankan bisnis impor alkes. 

Tahun 2002, dokter Jemmy Hartato mendirikan PT Jayamas Medica Industri (JMI) dengan pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur. Meskipun masih mengimpor beberapa bahan dasar, JMI kemudian memproduksi alat suntik (injeksi) sendiri dengan menggunakan merek Onemed. 

Dari hasil pengembangan bisnis, dokter Jemmy Hartanto kemudian memproduksi beberapa alat kesehatan seperti urine bag. Dia sampai menyewa ahli dari Singapura untuk mengajarkan cara produksi urine bag.  

"Saya selalu membandingkan dengan negara tetangga. Kalau ASEAN belum bikin, saya tertantang untuk bikin, karena ini peluang. Bisa punya alat kesehatan made in Indonesia tuh rasanya bangga sekali," kata dokter Jemmy Hartanto, seperti dikutip dari saluran Youtube Hermanto Tanoko. 

Tahun 2006, Dr Jemmy Hartanto memperluas pabrik Krian menjadi fasilitas seluas 8.000 meter persegi dengan 500 karyawan dan menambahkan jarum suntik sekali pakai ke dalam portofolio perusahaan.

Selanjutnya, perseroan berhasil mengantongi sertifikasi ISO 13485 untuk Sistem Manajemen Mutu untuk Alat Kesehatan dan menerima sertifikasi Cara Pembuatan dan Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CPAKB) dari Kementerian Kesehatan RI pada 2013.

Berikutnya, Jayamas Medica telah menerima kualifikasi ISO 9001 tentang Sistem Manajemen Mutu sejak tahun 2005 hingga sekarang. Berbekal dua kendali mutu tersebut, pada 2016, Dr Jemmy Hartanto percaya diri untuk mendirikan pabrik kedua di Mojoagung dengan total luas lahan 23.707 meter persegi dan juga mulai mengakumulasi land bank di Lamongan, Jatim, untuk mengantisipasi ekspansi perseroan di masa mendatang.

Pada 2017, Jayamas menerima Penghargaan Bidang Kesehatan Indonesia dari Kementerian Kesehatan dan Penghargaan Kreasi Lokal untuk Farmasi dan Peralatan Medis untuk Uro OneFoley-Catheter. 

Selanjutnya di tahun 2020, Dr Jemmy Hartanto mulai melakukan restrukturisasi untuk mengkonsolidasikan bisnis Grup sehingga perusahaan kini memiliki 99 persen saham PT Intisumber Hasil Sempurna Global (IHSG), yang menjalankan lini bisnis distribusi yang sebelumnya dipegang oleh PT Intisumber Hasil Sempurna (IHS).

Di tahun ini pula, Jayamas menyediakan 50 juta keping alkohol swab sebagai dukungan penuh untuk Kementerian Kesehatan dalam menanggapi pandemi Covid- 19, disamping menerima sertifikat EC (European Conformity) untuk Alat Kesehatan Jaminan Kualitas Produksi dari TÜV Rheinland untuk jarum suntik sekali pakai dengan jarum dan jarum suntik sekali pakai tanpa jarum.

Pada 2021, Jayamas Medica Industri mengakuisisi 51 persen saham PT Inti Medicom Retailindo, lini bisnis ritel perseroan di toko ritel offline dan online serta mengakuisisi land bank di Mojoagung untuk Pabrik Mojoagung II dan Wonosalam serta menyelesaikan akumulasi lahan untuk land bank di Lamongan.

Pabrik Onemed memproduksi masker hingga baju APD. (Foto: Istimewa)

Melalui perjalanan panjang dalam mengembangkan sejumlah fasilitas tersebut, Jayamas Medica kini sudah memiliki sedikitnya 3.200 stock keeeping unit (SKU) aktif yang bertebaran di enam kategori (per 31 Maret 2022).

“Pada 2021, segmen yang berkontribusi paling besar pada pendapatan perseroan adalah kategori Medical Disposable and Consumables sebesar 64,6 persen, disusul Antiseptic and Dialysis (13,8 persen), Diagnostic and Equipment (13,6%), Biotechnology and Laboratory (4,2 persen), Hospital Furniture (2%), dan Walking Aids and Rehabilitation (1,8 persen),” kata pendiri sekaligus Presiden Komisaris JMI, Dr Jemmy Hartanto, Kamis (11/8/2022).

Kini 20 tahun JMI atau Onemed sudah beroperasi di Indonesia. Dokter Jemmy Hartanto berkomitmen untuk mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mendorong mengurangi impor alat kesehatan dan memproduksi di dalam negeri. 

"Saya sangat mendukung karena suatu negara apalagi yang sebesar Indonesia kalau tidak punya industri alat kesehatan bahaya sekali. Kalau terjadi perang dan enggak ada barang yang masuk, bagaimana nanti. bekalau kita bisa produksi sendiri," ujar dokter Jemmy Hartanto.

Hampir lebih dari dua dekade beroperasi, Jayamas kini memiliki 1 pusat distribusi di Gresik, Jawa Timur, 20 kantor cabang/gudang, dan 19 kantor penjualan yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra (per 31 Maret 2022). Total land bank perseroan yang siap digunakan untuk ekspansi tercatat lebih dari 163.719 meter persegi.

Selain itu, perseroan juga memasok 1.700 rumah sakit di Indonesia, dari total sekitar 2.985 RS. Perseroan juga menggandeng 3.475 apotek dan gerai alat kesehatan.

Direktur Marketing PT Jayamas Medica Industri, Louis Hartanto menyatakan perseroan berencana menambah 1 pusat distribusi baru di Jakarta sehingga total ada 2 pusat distribusi. Selain itu, perseroan juga akan membangun 15 gudang baru di sejumlah titik lokasi penting guna mengefisienkan dan mengefektifkan proses.

PT Jayamas Medica Industri kini juga tercatat sebagai produsen alat-alat kesehatan habis pakai buatan anak bangsa terbanyak di Tanah Air dengan 493 produk asli Indonesia atau 4,87 persen dari total 10.109 alat kesehatan yang terdaftar di Kementerian Kesehatan. Selama pandemi, Onemed menjadi produsen masker kesehatan hingga baju APD.

Di tahun 2022 ini, demi mengerek penetrasi alat Kesehatan buatan anak bangsa ke seluruh pelosok Indonesia, perseroan siap berekspansi dengan mengembangkan fasilitas di tanah milik perseroan di Mojoagung II, Wonosalam Jombang, dan Lamongan serta membangun fasilitas baru di Kawasan Industri Terpadu Batang atau KITB.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut