Fakta Robinsons Singapura Tutup, Berusia 162 Tahun hingga Pernah Dibom Jepang
SINGAPURA, iNews.id - Robinsons & Co. Pte Ltd mengumumkan penutupan department store Robinsons di Singapura dan Malaysia. Robinsons menjadi jaringan ritel terbaru yang jatuh akibat pandemi Covid-19.
Berdiri sejak ratusan tahun yang lalu, Robinsons menutup empat toko masing-masing dua di Singapura dan dua di Malaysia. Penyebabnya tak lain penjualan yang semakin sulit di tengah pandemi.
Berikut fakta-fakta penutupan department store Robinsons yang dirangkum iNews.id, Minggu (1/11/2020), dari beragam sumber:
1. Berusia 162 Tahun
Robinsons didirikan pada 25 Februari 1858 oleh Phillip Robinson. Dia adalah saudara kandung dari politikus cum pebisnis Inggris, Elisha Smith Robinson.
2018 adalah perayaan ulang tahun Robinsons yang ke-160. Di tengah usianya yang renta, toko tersebut akhirnya tutup dua tahun kemudian.
2. Dibangun Berdua Sebelum Akhirnya Pisah
Philip Robinson, imigran dari Australia, mendirikan toko itu awalnya dengan nama Spicer and Robinson. Nama Spicer diambil dari mitra bisnisnya, James Gaborion Spicer yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga tahanan di Singapura.
Perjalanan bisnis keduanya di Robinson hanya bertahan sekitar satu tahun saja. Pada 1859, Spicer keluar dan toko yang awalnya berjualan bahan makanan hingga pakaian itu ganti nama menjadi Robinson and Company. Tak lama, dia menemukan mitra baru yang bernama George Rappa.
3. Raffles City Jadi Lokasi Toko Pertama dan Terakhir Robinsons
Robinsons dan Spicer pertama kali mendirikan toko tersebut di Commercial Square yang sekarang bernama Raffles Place. Toko tersebut hanya berpindah di sekitar kawasan tersebut untuk menampung barang lebih besar.
Pada 2001, Robinsons membuka toko baru modern (flagship store) di Raffles City Shopping Centre. Kini, toko tersebut ditutup bersamaan dengan flagship store di The Heeren.

4. Jadi Saksi Sejarah, Pernah Dibom
Berusia 162 tahun membuat Robinsons menjadi saksi bisu sejarah. Saat Perang Dunia ke-II, tepatnya Jepang menginvasi Asia Tenggara, bangunan toko dibom dua kali dan buka sehari setelahnya. Namun, toko ini tutup selama Pendudukan Jepang dari 1942-1945 dan baru buka pada 1946.
Pada 1972, flagship store yang ada di Raffles City kebakaran akibat tegangan arus pendek di lantai dasar. Api melahap seluruh bangunan Raffles Place, termasuk merusak atap bank OCBC. Sembilan orang tewas, termasuk delapan orang yang terjebak di dalam lift.
5. Sempat Dimiliki Lippo Group
Pada 2006, Lippo Group lewat Auric Pacific Group membeli 29,9 persen saham Robinsons & Co dari OCBC dan Great Eastern Holdings. Saat itu, nilai pembeliannya mencapai 203 juta Singapura, setara Rp1 triliun.
Ekspansi bisnis Lippo tersebut untuk memperkokoh posisinya sebagai pemain utama di bisnis ritel. Di Indonesia, Lippo Group diketahui mempunyai Hypermart dan Matahari.
6. Investor Dubai Jadi Pemilik Terakhir
Robinsons dikuasai Al-Futtaim Group pada 2008. Perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) itu menguasai 88 persen saham Robinsons & Co dari Lippo Group selaku pengendali saham.
Al-Futtaim memiliki bisnis ritel yang cukup banyak di Negeri Singa. Perusahaan tersebut mengoperasikan toko Marks & Spencer, Zara, dan Ted Baker di Singapura.
7. Robinsons Tutup Permanen
Pandemi Covid-19 dan tren belanja online menekan bisnis Robinsons yang menyasar kelas menengah ke atas. Perusahaan tak tertarik mengembangkan bisnis online untuk Robinsons.
Alasannya, konsep department store yang menjadi bisnis inti Robinsons tidak akan mungkin sukses. Pasalnya, tiap pemilik merek kini memilih menjual dan menjaga brand produk masing-masing secara online. Perusahaan masih mengoperasikan sejumlah toko John Little (Singapura) dan Marks & Spencer (Singapura dan Malaysia).
Editor: Rahmat Fiansyah