Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Catat Kinerja Solid, Bank Mandiri Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Pemerintah
Advertisement . Scroll to see content

Fintech Mulai Gerogoti Perbankan, Ini Kata Bos Bank Mandiri

Rabu, 14 November 2018 - 15:12:00 WIB
Fintech Mulai Gerogoti Perbankan, Ini Kata Bos Bank Mandiri
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo. (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perbankan saat ini mengakui adanya tantangan berat dari kehadiran perusahaan finansial teknologi (fintech). Disrupsi teknologi di industri perbankan itu perlahan mulai menggerogoti kue yang selama ini dinikmati oleh perbankan.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, ada gap antara regulasi bagi perbankan konvensional dan fintech. Dia menyebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerapkan regulasi yang lebih longgar bagi fintech.

Pria yang kerap disapa Tiko itu mengatakan, industri perbankan saat ini sangat terstruktur, mulai dari sisi organisasi hingga manajemen risiko. Menurut dia, hal itu tidak masalah karena ditujukan untuk melindungi nasabah.

Sementara itu, lanjut Tiko, OJK dan Bank Indonesia (BI) melonggarkan aturan untuk industri fintech. Pasalnya, pemerintah ingin agar industri tersebut tumbuh tanpa terkendala regulasi yang rumit.

"Kita harus membayangkan bank yang demikian terstruktur dengan risk management ketat apalagi bank BUMN, harus beradaptasi melawan pemain fintech yang relatif tidak ada regulasinya," ujarnya saat jumpa pers di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Untuk itu, Ketua Umum Perbanas ini mendorong seluruh perbankan untuk lincah membangun tim, kapabilitas, dan kecepatan sehingga dapat berlari seperti fintech. Namun, perbankan dinilainya juga harus tetap memperhatikan risiko operasional dan keamanan.

"Ini bagaiamana caranya kita bisa membangun agility (kelincahan). Kan agility-nya tidak boleh nabrak-nabrak, kalau nabrak kita nanti disalahkan. Ini yang memang menjadi tantangan," katanya.

Tiko menilai, pelaku fintech bisa berlari lebih cepat karena memiliki peluang bereksperimen lebih bebas dengan regulasi yang longgar. Dia pun mengakui perbankan belajar bagaimana fintech berinovasi di sektor jasa keuangan.

"Kita coba beradaptasi dengan membuat venture capital, yang kita juga bisa melakukan penyertaan di pemain challenger. Supaya kita bisa tahu bagaimana cara kita mengembangkan aplikasinya, bagaimana mereka berpikir, bagaimana kita bisa berkolaborasi," ucapnya.

Tiko mengatakan, konsumen saat ini lebih mementingkan kecepatan dalam melakukan transaksi pembayaran. Konsumen tidak lagi melihat siapa yang memfasilitasi pembayaran mereka.

"Yang penting payment-nya beres. Dia tidak peduli apa mau fintech, pakai Visa, GPN, melalui tools-nya bank, tidak peduli yang penting payment-nya bisa terlaksana dengan cepat, aman, dan bisa memberikan benefit dengan adanya promo-promo," tuturnya.

Kendati demikian, Tiko berharap OJK dan BI bisa lebih longgar terhadap perbankan. Hal ini supaya perbankan tidak tersalip fintech.

"Kita ke depan ingin makin dalam kerja sama dengan regulator, untuk membuat pola persetujuan maupun room yang diberikan untuk pemain yang existing, lebih lebar dari pada yang sekarang, sehingga kita bisa agak lebih speed-nya bersaing dengan non tradisional bank ini bisa lebih cepat dan lebih terbuka," katanya.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut