Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Koleksi Perhiasan Terbaru Clemence Ellery X Didiet Maulana Highlight Keindahan Batik Buketan
Advertisement . Scroll to see content

Gara-Gara Covid-19, Ekspor Perhiasan Tertekan

Sabtu, 06 Juni 2020 - 12:45:00 WIB
Gara-Gara Covid-19, Ekspor Perhiasan Tertekan
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih. (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku usaha, khususnya industri kecil menengah (IKM) memacu ekspor perhiasan. Komoditas ini sebelumnya telah berkontribusi signifikan bagi ekonomi, terutama ekspor.

Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin mengatakan, sektor ini mengalami tekanan berat akibat pandemi Covid-19.

"Kami bertekad melakukan pengembangan kepada sektor IKM di dalam negeri supaya tetap eksis di saat pandemi Covid-19, di antaranya adalah IKM perhiasan," katanya lewat keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2020).

Gati mengatakan, perhiasan merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Sepanjang tahun lalu, ekspornya mencapai 1,96 miliar dolar AS dengan surplus 1,84 miliar dolar AS.

Sementara pada kuartal I-2020, ekspor perhiasan hanya 284,9 juta dolar AS. Gati menilai, pandemi Covid-19 berdampak negatif bagi bisnis industri perhiasan, khususnya di daerah yang menjadi sentra emas seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

"Alasannya, produk perhiasan bukan merupakan kebutuhan pokok untuk bertahan hidup, selain itu banyak toko emas fisik yang dilarang beroperasi dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),” kata Gati.

Dia telah mengusulkan agar sektor ini mendapatkan keringanan pajak dan kredit. Diharapkan, pelaku usaha memperoleh modal kerja dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI), Eddy Susanto Yahya mengatakan, penjualan perhiasan emas di pasar domestik turun hingga 90 persen pada April 2020. Nilai ini merupakan yang terendah sejak krisis 1998.

"Memasuki Mei 2020 atau bertepatan dengan bulan Ramadan, penjualan sedikit meningkat dibandingkan bulan April dengan rata-rata kenaikan 50 persen," ujarnya.

Kondisi pasar ekspor, kata Eddy, tak jauh berbeda. Pada April, penjualan merosot sangat signifikan. Hampir semua negara menerapkan lockdown dan menolak pengiriman. Namun, beberapa negara mulai membuka pasar pada Mei seperti Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, dan AS.

"Beberapa produsen perhiasan anggota APPI mulai dapat mengirim pesanan, tetapi masih belum sebesar waktu-waktu normal. Namun demikian, penjualan di bulan Mei naik sebesar 50 persen dibandingkan bulan April," katanya.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut