Hadapi Lonjakan Harga Minyak Nabati, Ini Strategi Dharma Satya Nusantara (DSNG)
JAKARTA, iNews.id - Pasokan minyak nabati menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari cuaca yang mempengaruhi penanaman kembali, hingga lonjakan harga pupuk. Hal itu, dapat memicu lonjakan harga minyak nabati, termasuk minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Untuk menghadapi tantangan pasokan minyak nabati dan lonjakan harga CPO, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang merupakan salah satu produsen CPO, mmemiliki beberapa strategi berkelanjutan sesuai prinsip Environment, Social, and Governance (ESG), yaitu:
1. Profil kelapa sawit yang menarik: usia muda dengan 83 persen prima dan muda. Adapun praktik keberlanjutan yang luas dengan lembaga independen sertifikasi dan verifikasi, serta Adopsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan penghematan biaya.
2. Produk bersertifikat penuh dengan pasar yang berarti saham di pasar internasional Proses manufaktur yang dimodernisasi untuk mencapai kepemimpinan biaya
3. Pemberdayaan dan pelibatan masyarakat lokal untuk mengamankan kesinambungan pasokan kayu jangka panjang.
“Kami selalu menempatkan DSNG sebagai perusahaan pengelola sumber daya alam yang paling siap dalam penerapan aspek ESG, melalui setiap praktek bisnis berkelanjutan yang kami terapkan," kata Direktur Utama Dharma Satya Nusantara, Andrianto Oetomo, dalam MNC Group Investor Forum 2022, Rabu (16/3/2022).
Terkait dengan kebijakan pemerintah menaikkan Domestic Market Obligation (DMO) CPO menjadi 30 persen sesuai dengan mekanisme pasar. Kebijakan pemerintah itu dimaknai perseroan sebagai langkah untuk mengembalikan harga CPO pada mekanisme pasar.
Dia mengungkapkan, untuk memenuhi DMO CPO, DSNG menjual 100 persen produksi CPO ke pasar domestik. Jadi kebijakan DMO 30 persen yang ditetapkan pemerintah, hanya membuat DSNG kembali harga mekanisme pasar.
"Jadi untuk DMO, DSN sebenarnya jual 100 persen produk ke domestik, sesungguhnya DSN jadi kembali ke harga mekanisme pasar," kata Andrianto
Dalam paparannya, Andrianto mengungkapkan bahwa 84 persen produksi minyak kelapa sawit berasal dari Indonesia dan Malaysia. Adapun pertumbuhan CPO Indonesia diprediksi meningkat hanya 3-4 persen, sedangkan Malaysia masih diprediksi mengalami kesulitan sejak tahun lalu.
Editor: Jeanny Aipassa