Harga Tiket Domestik Lebih Mahal dari Internasional, Ini Kata INACA

Rully Ramli ยท Minggu, 13 Januari 2019 - 19:40 WIB
Harga Tiket Domestik Lebih Mahal dari Internasional, Ini Kata INACA

ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id - Maskapai akhirnya sepakat untuk mengembalikan harga tiket pesawat seperti sebelum peak season. Harga tiket pesawat rute domestik dikeluhkan calon penumpang karena lebih mahal daripada tiket rute internasional.

Lalu, mengapa tiket pesawat domestik lebih mahal dibandingkan tiket ke luar negeri?

Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA), I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra mengatakan, salah satu penyebab harga tiket pesawat domestik lebih mahal dari internasional karena rute domestik dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen.

"Untuk di dalam negeri kena PPN, sementara di luar negeri tidak kena PPN," kata pria yang kerap disapa Ari itu dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (13/1/2019).

BACA JUGA:

Tiket Pesawat Banda Aceh-Jakarta Turun Setengah Harga

Harga Tiket Pesawat Domestik Diturunkan Antara 20-60 Persen

 

Selain itu, kata Ari, jumlah maskapai yang menggarap rute internasional lebih banyak dibanding rute domestik yang masih sedikit. Sementara itu, kata dia, permintaan untuk domestik lebih tinggi dibandingkan internasional.

"Suplai penerbangan domestik hanya delapan maskapai, sementara yang di luar negeri bisa banyak," ujar Ashkara.

Direktur Utama Garuda Indonesia itu menjelaskan, pemerintah belum pernah mengubah tarif batas bawah dan tarif batas atas sejak 2016. Padahal, harga minyak dan kurs rupiah berubah cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir.

"Bahan bakar juga sudah naik 125 persen. Labour juga mengalami kenaikan. Kami tidak ada mendapatkan kenaikan harga yang terjadi sejak Lebaran Nataru (Natal dan Tahun Baru) 2016, tidak ada yang melebihi batas dari pemerintah," tutur Ari.

Situasi ini menekan kondisi maskapai. Akibatnya, maskapai "bermain" di batas atas. Pada Nataru 2019, Garuda mengoperasikan penerbangan kelas ekonomi dengan subc-lass tertinggi, sehingga harga tiket menjadi mahal.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menjelaskan, harga tiket domestik yang tidak kunjung turun sejak peak season disebabkan adanya persaingan harga di pasaran.

"Sejak Oktober 2018 Garuda selalu jual hanya tiket ekonomi sub-class tertinggi (Y-Class). Hal ini membuka peluang bagi yang lain ikutan naik. Semua airlines sedang berdarah-darah akibat perang harga beberapa tahun terakhir," kata Alvin kepada iNews.id.

Menurutnya, kenaikan harga tiket ekonomi dilakukan maskapai untuk menjaga keuangan perusahaan.


Editor : Rahmat Fiansyah