Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : OJK: Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia Melonjak 36,95 Persen Sepanjang 2025
Advertisement . Scroll to see content

IHSG Bergejolak, BEI Akui 5 Perusahaan Tunda IPO

Selasa, 22 Mei 2018 - 11:59:00 WIB
IHSG Bergejolak, BEI Akui 5 Perusahaan Tunda IPO
Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan sedikitnya ada lima perusahaan yang ingin mencatatkan sahamnya di pasar modal terpaksa mengalami penundaan. Salah satu perusahaan yang menunda pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) ini merupakan anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, yaitu PT Wika Realty.

BEI menilai, kelima perusahaan yang menunda untuk mencatatkan sahamnya di bursa dikarenakan tengah mencari momentum yang tepat di tengah berfluktuasinya kondisi pasar modal saat ini. Meski demikian, jumlah yang ada di pipeline masih 24 perusahaan yang tengah menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat menjelaskan, kelima perusahaan yang menunda untuk mencatatkan sahamnya di bursa di antaranya, PT Wika Realty, PT Wahana Vinnyl Nusantara, dan PT Artajasa Pembayaran Elektronis.

"Ada lima kalau enggak salah, termasuk Wika, Vinnyl. Ada lima sebagian besar karena market-nya. Iya ya satu lagi Wika Realty,” kata Samsul Hidayat, Selasa (22/5/2018).

BEI sebelumnya menilai, pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak membuat sejumlah perusahaan menunda untuk melaksanakan IPO. "Karena rencana IPO itu bukan rencana sehari, tetapi rncana yang sudah diputuskan bertahun-tahun dan minat pembelinya juga sudah ada," ujar Samsul beberapa waktu lalu.

Samsul Hidayat juga menilai, kondisi industri pasar modal bukan sepenuhnya disebabkan sentimen yang datang dari dalam negeri, tetapi dipengaruhi kebijakan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China.

“Kalau dilihat, penurunan saham diimbangi dengan masih masuknya dana investor yang masuk untuk mengakumulasi saham-saham yang telah turun," katanya.

Saat ini, lanjut dia, fundamental ekonomi nasional masih terjaga, sejumlah data yang telah diumumkan juga terbilang masih baik. Pemerintah tentu akan terus berupaya untuk menjaga perekonomian nasional tetap baik dan kondusif.

Meski begitu, Samsul Hidayat mengakui, sentimen mengenai teror yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia dapat mengganggu persepsi investor untuk berinvestasi. "Investor sebenarnya sudah cukup imune dengan kondisi itu, tetapi kan harapan kita ini bisa diatasi secepatnya oleh pihak keamanan agar investor nyaman untuk investasi," katanya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut