Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Penumpang KRL Commuter Line Tembus 724.536 saat Libur Natal, Stasiun Bogor Paling Ramai 
Advertisement . Scroll to see content

KCIC Tegaskan Tak Terlibat Keputusan Impor KRL Baru dari China

Sabtu, 10 Februari 2024 - 19:56:00 WIB
KCIC Tegaskan Tak Terlibat Keputusan Impor KRL Baru dari China
GM Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa. (Foto: Atikah Umiyani)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menegaskan tidak terlibat dalam keputusan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter yang mengimpor tiga trainset KRL dari perusahaan China, CRRC Sifang Co Ltd. Untuk diketahui, CRRC Sifang merupakan pemasok rangkaian Kereta Cepat Whoosh.

Sebelumnya, KCI telah mengumumkan akan membeli tiga trainset KRL dari CRRC Sifang senilai Rp783 miliar. Dengan demikian, ada kerja sama di dua jenis perkeretapian yang diproduksi oleh CRRC Sifang.

Kondisi ini pun menimbulkan dugaan di publik bahwa adanya kaitan antara KCIC dengan KAI Commuter dalam pengadaan kereta. Terkait hal tersebut, GM Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, tidak ada keterlibatan KCIC terhadap putusan impor KRL baru oleh KAI Commuter.

"Semuanya sesuai prosedur, kami juga tidak punya kapasitas di sana (pengadaan KRL). Apa yang dilakukan setiap operator saat pemesanan baik, dari negara A,B,C,D pasti punya pertimbangannya," ujar Eva saat ditemui di Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta, Sabtu (10/2/2024). 

Eva menambahkan, KCIC melakukan pengadaan dari CRRC Sifang sesuai spesifikasi kereta yang dibutuhkan. Sementara, rangkaian Whoosh menggunakan seri CR-400-AF atau seri terbaru dari kereta cepat yang dioperasikan di China. 

"Ini (kereta seri CR-400-AF) memang memiliki teknologi paling modern. Nah, terkait pemesanan yang dilakukan lainnya, karena beda manajemen, jadi di luar kapasitas kami," tuturnya.

Eva pun memastikan bahwa setiap pengadaan sarana perkeretaapian yang dilakukan oleh suatu operator tentu mempertimbangkan sejumlah hal yang memang bisa memenuhi kebutuhan operator tersebut. Maka, tidak ada kaitan dengan pihak operator lainnya. 

Dalam proses pengadaannya pun, kata Eva, pasti melalui prosedur dengan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG), karena memang diawasi oleh pemerintah. 

"Prosedur yang dilalui tentu ada GCG karena setiap prosedur impor semua kementerian pasti mengawasi, dan kita harus lakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang ditetapkan. Jadi tidak ada kaitannya (KCIC dengan KAI Commuter), karena kita beda manajemen," ucapnya.

Sebelumnya, KAI Commuter juga telah menjelaskan alasan memesan tiga rangkaian KRL baru senilai Rp783 miliar dari CRRC Sifang. Keputusan ini sekaligus menandai ditolaknya tawaran pengadaan KRL dari Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Sebagaimana telah ramai diberitakan bahwa proposal awal pengadaan KRL yang diterima oleh KCI adalah dari produsen KRL asal Jepang yakni J-TREC.

Namun keputusan akhir untuk impor dari China menimbulkan dugaan bahwa adanya ancaman dari China Development Bank (CDB) yang akan menahan pemberian utang proyek Kereta Cepat Whoosh jika Indonesia memilih tawaran Jepang.

Vice President Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba menyebut, keputusan pengadaan impor rangkaian KRL baru dari CRRC Sifang telah mempertimbangkan sejumlah hal, dan tidak ada kaitannya dengan Kereta Cepat Whoosh.

Pertimbangan itu yakni nilai tawaran dari Jepang yang lebih mahal, spefisikasi kereta KRL yang bisa dipenuhi oleh CRRC, hingga persyaratan ketepatan waktu pengiriman (time delivery) yang sesuai dengan kebutuhan KAI Commuter. 

"Ada spesifikasi teknis yang sangat mendekati dari CRRC, karena dia memang produksi benar-benar sesuai kebutuhan kita," ucap Anne dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (6/1/2024).

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut