Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Politisi Perindo Ingatkan Dampak Resesi Ekonomi AS ke Indonesia, Ini Penjelasannya
Advertisement . Scroll to see content

Kebijakan Tarif Impor Baja AS Hantam Kanada dan Brasil

Jumat, 02 Maret 2018 - 21:54:00 WIB
Kebijakan Tarif Impor Baja AS Hantam Kanada dan Brasil
Ilustrasi (Foto: Huffington Post)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id – Kanada dan Brasil akan mendapat hantaman paling keras akibat kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memberlakukan tarif baja impor dari luar negeri sebesar 25 persen.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan AS dan HIS Global Trade, total impor baja hingga September 2017 dari kedua negara tersebut menjadi yang terbesar masing-masing memiliki porsi 16 persen dari Kanada dan 13 persen dari Brasil. China yang seringkali dikritik karena dituding melakukan praktik dumping produk baja bukan termasuk dalam daftar 10 negara eksportir baja terbesar ke AS.

Kebijakan yang rencananya akan diteken oleh Presiden Donald Trump tersebut langsung memancing reaksi keras dari Kanada. Menanggapi kebijakan tarif AS, Francois-Phillippe Champagne, Menteri Perdagangan Kanada menyebut bahwa pajak tersebut “tidak dapat diterima” dan pihaknya akan mengambil tindakan untuk melindungi para pekerja Kanada.

Selain Kanada dan Brasil, negara yang mengekspor baja paling besar ke AS antara lain Korea Selatan, Meksiko, dan Rusia.

Presiden Trump baru saja mengumumkan akan menerapkan tarif pajak 25 persen untuk baja impor dan 10 persen untuk aluminium impor. Kebijakan yang akan diberlakukan mulai minggu depan ini dinilai Trump sebagai evaluasi atas sejumlah perjanjian dagang yang merugikan Amerika.

Untuk aluminium, Kanada juga menjadi eksportir terbesar ke AS dengan porsi 56 persen, diikuti Rusia (8 persen) dan Uni Emirat Arab (7 persen) dalam kurun waktu 2013 dan 2016 menurut data Survei Geologi AS.

Ron Kirk, Mantan Penasihat Perdagangan Presiden Barrack Obama mengatakan, langkah terbaru Presiden Trump tersebut akan merugikan masyarakat Amerika.

“Ada harga yang harus dibayar oleh pelaku bisnis Amerika dan keluarga Amerika dari kebijakan ini. Ketika kita mengambil jalan ini, mereka yang paling dirugikan sebenarnya adalah konsumen dan pelaku bisnis yang membeli produk-produk itu. Kita tentu tahu dampak yang tidak diinginkan dari kebijakan ini adalah hilangnya lapangan pekerjaan di industri lainnya,” kata Ron, dikutip dari CNBC pada Jumat (2/3/2018).

Menurut Ron, harga baja akan meningkat sehingga bisa memantik laju inflasi lebih panas lagi dan membuat ekonomi AS terancam melambat. Tidak hanya itu, kata Ron, kebijakan ini juga bisa memicu perang dagang.

“Kalau Anda hendak bermain dengan kartu itu, kita sebaiknya harus berhati-hati karena akan mengundang mitra dagang kita untuk membuat kebijakan yang sama dengan menyembunyikannya dengan jargon yang sama yaitu untuk melindungi kepentingan nasional mereka,” tutur Ron.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut