Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pesawat Timpa Hanggar Picu Kebakaran Besar, 2 Orang Tewas 10 Luka
Advertisement . Scroll to see content

Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 Terburuk Kedua dalam Sejarah RI

Selasa, 30 Oktober 2018 - 13:48:00 WIB
Kecelakaan  Pesawat Lion Air JT 610 Terburuk Kedua dalam Sejarah RI
Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang menunggu di Crisis Center Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (30/10/2018). (Foto: Ant)
Advertisement . Scroll to see content

KARAWANG, iNews.id - Kecelakaan fatal yang terjadi pada pesawat Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang tercatat menjadi yang terparah kedua dalam sejarah Indonesia dari sisi jumlah penumpang yang tewas.

Dilansir Flight Global, Selasa (30/10/2018), sebelum kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan JT 610, maskapai Lion Air sudah mengalami kecelakaan 11 kali dengan rincian 5 pesawat hancur, 5 pesawat rusak parah, dan 1 pesawat rusak ringan.

Pesawat Lion Air terakhir kali mengalami insiden pada 30 November 2004 saat burung besi jenis McDonnell Douglas MD-80 tergelincir akibat hujan sehingga kebablasan dari landasan di Bandara Solo. Saat itu, satu penumpang tewas.

Data Flight Fleets Analyzer yang dimiliki oleh Flight Global menunjukkan bahwa kecelakaan terparah di Indonesia terjadi pada 26 September 1997 saat pesawat jenis Airbus A300 milik Garuda Indonesia menabrak gunung di Desa Buah Nabar, 32 kilometer sebelum mendarat di Bandara Polonia Medan.

Penyebab tabrakan saat itu karena awan tebal sehingga pesawat seketika meledak akibat menabrak dan hangus terbakar. Berdasarkan hasil investigasi, pesawat yang diminta ATC untuk belok kiri malah belok kanan. Selain itu, pesawat terbang di bawah ketinggian yang ditetapkan.

Seluruh penumpang sebanyak 234 orang tewas, termasuk 12 orang kru. Saat itu, sejumlah warga negara asing juga ikut menjadi korban, yakni Malaysia, Jerman, AS, Kanada, Inggris, dan Prancis.

Kecelakaan terparah ketiga dialami oleh pesawat AirAsia jenis Airbus A320 pada Desember 2014. Saat itu, pesawat yang tengah menuju Singapura dari Surabaya jatuh di Selat Karimata. Sebanyak 162 penumpang tewas, termasuk 17 anak-anak dan satu balita.

Cuaca buruk saat itu dinilai menjadi penyebab utama kecelakaan. Adanya fenomena awan cumulonimbus memicu terjadinya proses pendinganan sehingga membuat mesin rusak. Hasil investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengonfirmasi adanya kerusakan FAC. Pesawat itu juga sebelumnya telah rusak 23 kali dan tidak terdeteksi teknisi AirAsia.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut