BOGOR, iNews.id – Tidak mudah mengenalkan pembayaran digital kepada masyarakat yang belum begitu mengenal teknologi. Itu pula yang dirasakan Novi Situngkir, pioner agen BRILink di Desa Ragajaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dengan penuh kesabaran dan kegigihan, agen BRILink yang kini menjadi salah satu ujung tombak BRI dalam menjangkau nasabah di perdesaan mampu meyakinkan nasabah untuk bertransaksi keuangan tanpa harus datang ke bank.
Purbaya Proyeksi Defisit APBN Bisa Capai 3,7 Persen Jika Harga MInyak Tembus USD92 per Barel
Suka duka awal mula merintis agen BRILink itu diungkapkan Novi Situngkir saat ditemui iNews.id di kiosnya Jalan Raya Ragajaya.
Novi bercerita awal mula tertarik hingga menjadi agen BRILink dimulai pada 2019. Semula dirinya memiliki bisnis pembayaran digital dan agen penjualan tiket online. Namun, hasilnya tidak menentu.
Qlola by BRI, Layanan Digital Perbankan Terintegrasi untuk Bisnis Wholesale hingga Retailer
Novi kemudian disarankan kakaknya untuk menjadi agen BRILink. Tanpa pikir panjang, dia mengikuti saran sang kakak. Bermodalkan uang Rp3 Juta, Novi pun ke Bank BRI cabang Depok untuk mengajukan diri sebagai agen BRILink.
“Saya mulai jadi agen BRILink tahun 2019. Itu atas saran kakak saya yang sudah jadi agen BRILink di Depok. Modal awalnya Rp3 juta buat saldo,” kata Novi, Senin (13/11/2023).
Kembangkan Produk Heritage, Brand Lokal Ini Go Global bersama BRILIANPRENEUR
Awalnya Dicuekin
Novi mengaku awalnya belum banyak masyarakat yang mengetahui kemudahan melakukan pembayaran lewat BRILink. Sebab, mereka masih banyak masyarakat yang belum percaya bertransaksi keuangan dan perbankan di luar kantor bank.
Terlebih, jika pas transaksi ada kendala jaringan hingga membuat nasabah kecewa.
“Saya sebisa mungkin menjelaskan ke nasabah kalau semua transaksi pembayaran bisa lewat BRILink. Termasuk transfer uang. Tidak jarang saya juga harus nalangin kalau pas transfer jaringannya error, padahal uang sudah masuk,” katanya.
Masa-masa sulit yang dialami Novi lainnya yakni sepinya nasabah. Dalam sehari, terkadang hanya melayani 10-30 transaksi.
“Awal-awal memang sepi. Paling 30an transaksi per hari. Itu pun tidak menentu,” ucapnya.
Namun, berkat keuletan dan kegigihannya, perlahan namun pasti usaha BRILink yang dijalaninya semakin berkembang dan dikenal masyarakat.
“Sekarang sudah 100 transaksi per hari mulai tarik tunai, transfer, pembayaran listrik, air, pulsa, leasing dan lain-lainnya. Keuntungannya lumayan Rp2.500 per transaksi. Karena kan dibagi 2, 50 persen ke BRI 50 persen buat agen. Kalau dikalikan 30 hari ya lumayan bisa Rp7 jutaan,” katanya.
BRILink Semakin Dipercaya Masyarakat
Novi mengatakan, meski banyak pembayaran digital masyarakat kini lebih memilih melakukan pembayaran melalui BRILink karena lebih mudah, terpercaya, dan tidak perlu mengantre ke bank atau ke minimarket.
“BRILink sekarang sudah kenal masyarakat luas dan semua pembayaran bisa dilakukan di sini,” ucapnya.
Novi menambahkan tidak sulit menjadi agen BRILink. Syaratnya pun mudah hanya mengajukan ke Bank BRI dilengkap dengan posisi dan bisa mencapai target.
“Awal-awal saya hanya pakai BRImo. Tapi, setelah terus berkembang dan bisa capai target 1.00 transaksi per hari, saya diberi mesin Electronic Data Capture (EDC) Mini ATM BRI,” katanya.
Novi menambahkan, saat ini sudah ada beberapa agen BRILink di Desa Ragajaya yang membuat persaingan semakin ketat. Namun, dia tidak khawatir karena sudah ada pelanggan setianya.
“Yang paling penting pelayanan ke pelanggan. Kalau kita cepat melayani, mereka pasti akan dating lagi. Selain itu, tetap yakin karena rezeki tidak ke mana,” ujarnya.
Novi juga berharap BRI terus melakukan inovasi pembayaran digital dengan menambah fitur-fitur agar semakin menarik minat masyarakat. Selain itu, jaringan internet bisa lebih lancar.
“Paling penting bagi agen BRILink itu jaringannya lancar terus jangan sampai down,” ucapnya.
Nasabah BRILink, Topan mengaku sangat terbantu dengan kehadiran agen BRILink karena memudahkan masyarakat dalam melakukan pembayaran.
“Kita tidak perlu lama-lama antre ke bank. Cukup ke BRILink, semua pembayaran bisa dilayani,” ucapnya.
Jumlah Agen BRILink Tembus 680.000
Selama tiga bulan pertama 2023, BRI mencatat jumlah agen BRILink sebanyak 680.000 yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini terus bertumbuh, karena peminat agen BRILink terus bertambah.
Direktur Utama BRI, Sunarso saat ditemui di Gedung BRI, Jakarta, beberapa waktu lalu mengatakan, pesatnya perkembangan BRILink karena perseroan fokus menyasar para pelaku pasar hingga di tingkat ultra mikro yang menawarkan produk keuangan, sekaligus dapat berbagi benefit dengan agen.
"Ini benar-benar sharing economy karena fee-nya nanti dibagi dua, yang banyak dapat itu agen, BRI kecil saja, dan itu adalah kelebihan dari agen," tuturnya kepada iNews.id.
Sunarso menyadari sebagian masyarakat di akar rumput sudah cukup akrab dengan gawai atau gadget, tetapi belum familiar dengan produk keuangan digital. Skema hybrid digunakan untuk BRILink agar dapat meringankan proses yang terjadi.
Untuk diketahui, BRILink merupakan layanan perbankan tanpa kantor sebagai perpanjangan tangan perseroan di masyarakat. BRI menjalin kerja sama dengan nasabah sebagai agen yang dapat melayani transaksi perbankan bagi masyarakat secara real time.
BRILink Raih Penghargaan Internasional
Sunarso menjelaskan bahwa volume transaksi BRILink telah menembus angka Rp325 triliun di kuartal I 2023.
"Dari angka tersebut, ini sudah menghasilkan fee sekitar Rp365 miliar, jadi kekuatan agen ini luar biasa, dan inilah sebenarnya keberhasilan kita," ucap Sunarso.
Kinerja impresif agen BRILink yang dimiliki oleh BRI diakui secara global dengan diraihnya penghargaan internasional kategori Transformation Project dari The Banker dalam penghargaan Innovation in Digital Banking Awards 2023 yang dipublikasikan pada pertengahan September 2023.
Penghargaan tersebut adalah satu dari 18 award yang diberikan The Banker kepada pelaku usaha layanan jasa keuangan baik bank maupun non-bank. Dalam proses seleksi penghargaan tersebut, BRI mengalahkan banyak pesaing internasional, baik itu bank, fintech, maupun perusahaan telco.
Editor: Kastolani Marzuki