Krisis Properti China Jadi Ancaman Baru Pertumbuhan Ekonomi Global, Ini Dampaknya Bagi Negara Berkembang
JAKARTA, iNews.id - Krisis properti China dikhawatirkan menjadi ancaman baru bagi pertumbuhan ekonomi global setelah konflik geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19, juga perubahan iklim. Tak main-main, krisis properti China diperkirakan berdampak menekan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, terutama negara-negara berkembang.
Industri properti di China saat ini sedang dalam kondisi yang cukup sulit. Banyak pengembang yang tidak bisa melanjutkan pembangunan yang diakibatkan oleh pembatasan pinjaman kepada lembaga keuangan.
Hal tersebut merupakan turunan dari kebijakan yang disebut "tiga garis merah". Tujuannya untuk mengempeskan gelembung properti di China yang sudah terjadi selama beberapa dekade belakangan.
Kebijakan tersebut memiliki tujuan ganda. Pertama, mengurangi ketergantungan ekonomi yang berlebihan pada properti. Kedua, meredam spekulasi yang membuat harga rumah di luar jangkauan banyak orang di kelas menengah.
Managing Director Teneo, Perusahaan Analisis Risiko, Gabriel Wildau, mengatakan krisis properti yang terjadi di China merupakan ulah dari kebijakan pemerintah.
“Tekanan akut yang dialami pasar saat ini adalah akibat langsung dari pembatasan pinjaman yang sangat ketat kepada pengembang yang diberlakukan sekitar satu setengah tahun yang lalu.” kata Gabriel dikutip AlJazeera, Kamis (6/10/2022).
Melalui kebijakan "tiga garis merah" pengembang diharuskan untuk memenuhi penanda kesehatan keuangan yang ketat, termasuk batas 100 persen pada utang bersih terhadap ekuitas, untuk meminjam dari bank dan lembaga keuangan lainnya.
Ternyata, banyak pengembang telah beroperasi jauh di luar "tiga garis merah" dan dibebani dengan utang yang sangat besar. Tiba-tiba tidak dapat meminjam di bawah aturan baru, maka muncul krisis keuangan.
Kepala Ekonom Asia Pasifik Natixis Hong Kong, Alicia García-Herrero, menjelaskan sektor properti menjadi penyumbang hingga 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) China.
Besarnya ekonomi China bahkan menjadi penyumbang seperlima dari PDB Global. Artinya, perekonomian China yang terhambat akibat sektor properti yang lesu akan berdampak serius pada pertumbuhan ekonomi global.
Dengan demikian, krisis properti China menjadi ancaman pada pertumbuhan ekonomi global, setelah adanya konflik Geopolitik, pandemi covid 19, dan krisis iklim yang sedang terjadi. “Dampak global sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan yang sangat rendah dari China," kata Alicia García-Herrero.
Dia mengungkapkan, Forum Ekonomi Dunia memperkirakan bahwa setiap penurunan 1 poin persentase dalam PDB Tiongkok menghasilkan pengurangan 0,3 persen dalam PDB global.
"Sedangkan pada sebuah studi tahun 2019 oleh Federal Reserve Amerika Serikat, para ekonom memperkirakan penurunan 8,5 persen dalam PDB China akan mengakibatkan penurunan 3,25 persen PDB di negara maju dan hampir 6 persen penurunan PDB di negara berkembang," ungkap Alicia García-Herrero.
Ekonomi China mungkin memang tidak mengalami kemerosotan ekonomi secara tajam, namun jika kemerosotannya berlarut-larut, maka akan menyeret pertumbuhan ekonomi global di tahun-tahun mendatang.
"Kami hanya bisa melihat periode pertumbuhan yang lambat, sesuatu yang lebih seperti skenario Jepang, semacam perlambatan yang parah selama bertahun-tahun bahkan tidak ada kesulitan keuangan akut atau kepanikan di pasar," tutur Alicia García-Herrero.
Editor: Jeanny Aipassa