Mantan Bos Waskita Karya Beberkan soal 8 Kecelakaan Kerja
JAKARTA, iNews.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) telah memutuskan untuk mencopot M Choliq dari jabatannya sebagai Direktur Utama. Pucuk pimpinan perusahaan pelat merah sektor konstruksi tersebut kini diduduki oleh I Gusti Ngurah Putra.
Choliq menyadari, perombakan direksi ini merupakan konsekuensi logis yang memang harus diterima manajemen. Dengan maraknya kecelakaan kerja dan konstruksi yang menimpa perusahaan, perombakan direksi memang cukup diperlukan untuk mendorong perbaikan kinerja ke depan.
"Kita sadar bahwa BOD (Board of Director) yang lama di tahun terakhir mulai dari Agustus sampai Maret 2018 terjadi kecelakaan yang cukup dramatis yaitu sekitar delapan kali kecelakaan dari total 16 kali kecelakaan seluruh Indonesia. Delapan itu terjadi di Waskita," ucapnya usai pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Gedung Waskita Karya, Jakarta, Jumat 6 April 2018.
Choliq membeberkan, sejak Agustus 2017-Maret 2018 terdapat delapan kecelakaan konstruksi. Satu di antaranya adalah kegagalan konstruksi underpass Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan tujuh lainnya adalah kecelakaan kerja.
"Kalau tembok roboh di Soetta ini murni kesalahan desain dari awal. Tapi, yang lain kecelakaan kerja. Cuma, mungkin teman-teman wartawan kalau melihat view jangan hanya yang delapan bulan. Lihatlah Waskita 10 tahun terakhir, berapa kecelakaan yang terjadi. Lebih banyak enggak dari kontraktor lain," ujarnya.
Dia menerangkan, meski tertimpa musibah dengan maraknya kecelakaan kerja, Waskita Karya telah merealisasikan berbagai pembangunan infrastruktur. Di tahun 2017 saja, BUMN karya ini berhasil menggenjot percepatan pemasangan ribuan girder dalam setiap proyek infrastruktur.
"Anda tahu berapa banyak girder yang sudah dipasang waskita karya tahun 2017? 11 ribu lebih. Coba tanyakan ke kontraktor lain, saya yakin tidak ada yang memasang lebih dari 100. Bandingkan dengan waskita yang 11 ribu. Bukan membela ya," katanya.
Selain merombak jajaran direksi, pengalaman kecelakaan kerja yang menimpa perusahaan ini mendorong Kementerian BUMN membentuk unit baru, yakni Direktur Quality, Safety, Health and Enviroment (QSHE).
"Tentu hal yang sangat fenomenal ini akan diperbarui. Makanya sebabnya di dalam struktur BOD yang baru ada direktur, direktur lho ini, bukan tingkat unit satuan kerja, tapi direktur yang khusus menangani masalah QHSE," ucapnya.
"Ini khusus. Belum ada di dalam struktur organisasi kontraktor di Indonesia yang punya tingkat direktur QHSE. Harapannya tentu karena masalah ini ditangani pada tingkat direktur, kecelakaan-kecelakaan ini bisa kita minimize semakismal mungkin," ujar Choliq.
Editor: Ranto Rajagukguk