Pekerjaan Model Kantoran Dinilai Akan Musnah di Masa Depan
LONDON, iNews.id – Konsep gig economy terus menyebar layaknya “virus” ke dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya model pekerjaan kantoran yang dinilai akan berubah total dalam lima tahun ke depan.
Dilansir Business Insider, Senin (28/5/2018), CEO Catalant Technologies, Patrick Petitti mengatakan, freelance akan menjadi model pekerjaan masa depan karena pekerja kantoran dinilai sudah kuno.
Nantinya pekerja yang memiliki keahlian tertentu akan terhubung dengan perusahaan lewat algoritma teknologi. Pekerja bisa memilih sesuai kebutuhan yang ditawarkan oleh perusahaan.
Petittie mengatakan, perusahaannya sudah bekerja sama dengan sekitar 30 persen dari perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 100. Lewat aplikasi, algoritma akan bekerja mencocokkan kebutuhan pekerja dan perusahaan dari sisi proyek, jam kerja, dan jumlah bayaran.
Dia percaya teknologi akan mendorong orang keluar dari pekerjaan tradisional yang terikat pada satu perusahaan. Dengan kata lain, pekerja bisa berkarya di perusahaan manapun yang diinginkan. Di masa depan, kata Petitti, karir pekerja lebih seperti serial pengalaman hidup ketimbang pengabdian pada satu organisasi.
“Cara orang-orang yang bekerja secara tradisional sejujurnya membuat mereka depresi. Fakta bahwa Anda bekerja di sebuah perusahaan yang meminta Anda untuk melakukan ini, kapan dilakukan, dimana dilakukan, terasa tidak benar. Kita hidup di dunia teknologi dimana orang-orang seharusnya bisa mengerjakan sesuatu yang mereka pedulikan dan bisa relatif mereka kontrol,” kata Petitti.
Menurut dia, ketika perusahaan memberikan sebuah misi dari awal dengan tujuan yang jelas, pekerja akan lebih bersemangat. Banyak pekerjaan yang dinilai tidak memuaskan pekerjanya.
Co-CEO, Rob Biederman menambahkan, meskipun memiliki keuntungan, konsep ini memiliki kekurangan yaitu keamanan atas jaminan bekerja dalam jangka panjang, bayaran yang konsisten, dan isu soal hak pekerja.
Pekerjaan dengan model freelance juga disebutnya terkadang tidak cocok dengan semua orang karena bayaran diperoleh saat bekerja. Pekerja kantoran tetap mendapat bayaran saat mereka libur. Selain itu, tidak ada jaminan dari perusahaan setelah proyek selesai, akan kembali mendapat proyek baru.
“Ketiadaan hukum membuat para pekerja di sektor manapun dengan konsep gig economy sangat rentan dieksploitasi oleh perusahaan,” kata Frank Field, anggota parlemen Inggris.
Namun, kekhawatiran tersebut tampaknya tidak menyurutkan pergeseran semakin musnahnya model pekerjaa kantoran. Data American Freelance Union pada tahun lalu menyebut, porsi pekerja freelance terhadap angkatan kerja di AS mencapai 36 persen dan diprediksi melampaui porsi pekerja tradisional pada 2027.
Editor: Rahmat Fiansyah