Pendapatan Ekspor Energi Rusia Diprediksi Naik jadi Rp5.017 Triliun Tahun Ini
MOSKOW, iNews.id - Pendapatan Rusia dari ekspor energi diperkirakan menjadi 337,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.017 triliun pada tahun ini seiring dengan bertambahnya volume ekspor minyak dan kenaikan harga bahan bakar. Angka itu naik 38 persen dibanding tahun lalu.
Perkiraan pendapatan Rusia dari ekspor energi tersebut berdasarkan dokumen Kementerian Ekonomi negara itu yang dilihat Reuters. Jika perkiraan tersebut terwujud maka akan membantu menopang ekonomi Rusia dalam menghadapi gelombang sanksi Barat.
Pendapatan itu akan memberi Presiden Rusia Vladimir Putin uang tunai untuk mendanai pengeluaran perang atau untuk meningkatkan upah dan uang pensiun saat ekonomi jatuh ke dalam resesi dan inflasi yang mengikis standar hidup. Namun, menurut para analis, melonjaknya pendapatan energi hanya sebagian mengompensasi kerusakan akibat sanksi terhadap ekonomi secara keseluruhan.
"Dampak sanksi terhadap ekonomi Rusia sangat tidak merata. Di beberapa sektor, telah menjadi bencana besar, seperti industri mobil. Sektor minyak relatif tidak terluka untuk saat ini," kata Janis Kluge, analis di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan.
Selain otomotif, dia menyebut, IT dan keuangan sebagai dua sektor yang paling terpukul.
"Sektor-sektor ini memiliki hubungan paling kuat dengan Barat dan akibatnya paling menderita,," ujarnya.
Sementara itu, dokumen Kementerian Rusia memproyeksikan pendapatan ekspor energi akan berkurang menjadi 255,8 miliar dolar AS pada tahun depan. Namun angka itu masih lebih tinggi dibanding 2021 sebesar 244,2 miliar dolar AS.
Adapun harga ekspor rata-rata bensin diperkirkan akan lebih dari dua kali lipat tahun ini menjadi 730 dolar AS per 1.000 meter kubik, sebelum turun secara bertahap hingga akhir 2025.
Aliran bensin dari Rusia, pemasok utama Eropa, berkurang tahun ini setelah satu rute ditutup ketika Moskow menginvasi Ukraina pada Februari lalu. Beberapa pasokan ke negara Eropa dihentikan karena menolak membayar bensin dalam rubel Rusia. Selain itu, adanya perbaikan turbin untuk pipa Nord Stream 1 dari Rusia ke Jerman.
Sebagai akibatnya, harga energi melonjak tinggi. Konsumen di Eropa pun menghadapi ancaman penjatahan energi pada musim dingin tahun ini dan inflasi yang tinggi.
Kementerian ekonomi memperkirakan volume gas pipa dari eksportir Rusia Gazprom akan turun menjadi 170,4 miliar meter kubik (bcm) tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan yang diterbitkan pada Mei sebesar 185 bcm dan 205,6 bcm yang diekspor pada 2021.
Rusia telah mulai secara bertahap meningkatkan produksi minyaknya setelah pembatasan terkait sanksi dan karena pembeli Asia telah meningkatkan pembelian. Ini membuat Moskow meningkatkan perkiraan untuk produksi dan ekspor hingga akhir 2025.
Gazprom juga menyatakan pasokan bensin meningkat ke China. Namun belum memberikan rincian sementara Eropa tetap menjadi pasar yang lebih besar untuk gas Rusia.
Secara keseluruhan, perkiraan Kementerian Ekonomi Rusia menunjukkan ekonomi negara itu berurusan dengan sanksi terkait invasi Rusia ke Ukraina lebih baik daripada yang ditakuti Moskow dan ekonomi akan berkontraksi kurang dari yang diperkirakan. Pada satu titik, Kementerian Ekonomi telah memperingatkan ekonomi berada di jalur untuk menyusut lebih dari 12 persen.
Itu akan menjadi penurunan terbesar dalam output ekonomi sejak runtuhnya Uni Soviet dan krisis yang dihasilkan pada pertengahan 1990-an. Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) diperkirakan menyusut 4,2 persen tahun ini.
Editor: Jujuk Ernawati