Perkenalkan Giovanni Ferrero, Miliarder Italia yang Kaya dari Selai Cokelat Nutella
BRUSSELS, iNews.id - Selai cokelat plus hazelnut dengan merek dagang Nutella banyak beredar di supermarket. Namun tak banyak yang tahu kalau selai tersebut berasal dari Italia.
Dilansir Business Insider, Kamis (9/1/2020), nutella merupakan produk andalan Ferrero Group, konglomerasi terbesar di Negeri Pizza. Sekitar seperempat suplai hazelnut dunia digunakan untuk membuat nutella.
Giovanni Ferrero berada di balik kesuksesan Ferrero Group. Selai itu ditemukan pertama kali oleh ayahnya, Michele Ferrero pada 1964. Namun, Giovanni bersama mendiang kakaknya berhasil mengubah bisnis keluarga yang awalnya hanya toko cokelat biasa menjadi bisnis cokelat dan permen raksasa di dunia.
Kesuksesan nutella berbanding terbalik dengan popularitas keluarga Ferrero, termasuk Giovanni. Keluarga miliarder ini cenderung low profile, bahkan tertutup karena level keamanan yang melekat setara dengan NASA.
Giovanni lahir di Italia pada April 1964. Dia menjalani pendidikan di salah satu boarding school di Belgia lalu kemudian belajar soal pemasaran di Lebanon Valley College di Pennsylvania, AS.
Setelah lulus, Giovanni yang merupakan anak bungsu ikut bergabung bersama kakaknya mengelola toko cokelat sang ayah. Toko ini dirintis pertama kali oleh kakek Giovanny, Pietro Ferrero di Alba, Italia pada 1946.
Cikal bakal nutella mulai terlihat. Saat itu kakeknya memproduksi selai cokelat hazelnut dengan merek Supercrema di tengah kelangkaan suplai bahan baku cokelat akibat perang.
Ayahnya melanjutkan bisnis itu. Kakak Giovanni yang juga bernama Pietro ikut mengatur operasional mulai dari logistik hingga pengembangan produk. Sementara Giovanni terlibat dalam hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas. Pada 1997, Pietro dan Giovanni berbagi peran menjadi co-CEO Ferrero Group.
Pada 2011, kakaknya meninggal akibat serangan jantung. Giovanni kemudian menjadi CEO tunggal. Adapun ayahnya tetap menjadi executive chairman sebelum akhirnya wafat pada 2015 lalu.
Sejak kematian ayahnya, dia mengendalikan Ferrero Group dengan titel CEO dan executive chairman. Dua tahun kemudian, Giovanni mengangkat Lapo Civiletti untuk menjadi CEO dan pria berusia 55 tahun itu tetap menjadi executive chairman.
Giovanni bukan miliarder yang nyentrik. Dia lebih introvert daripada kakaknya. Sisi tersebut terlihat karena selain berbisnis, Giovanni suka menulis. Tercatat, delapan novel dihasilkan lewat tangan pria yang kini menetap di Brussels, Belgia itu.
Namun ketenangan Giovanni membuat bisnis Ferrero Group makin mengkilap. Inovasi dia lakukan lewat berbagai aksi korporasi bisnis. Hal ini berbeda dengan tradisi Ferrero yang puluhan tahun mengembangkan merek sendiri.
Pada 2015, Giovanni membeli perusahaan cokelat asal Inggris, Thornton senilai 170 juta dolar AS. Pada 2018, dia membeli Butterfinger dan unit bisnis permen Nestle, Babyruth dengan total nilai 2,8 miliar dolar AS.
Inovasi tersebut berbuah manis. Sepanjang 2019, nilai kekayaan Giovanni meningkat Rp135 triliun sehingga membuat hartanya mencapai Rp448 triliun. Hal ini membuatnya menjadi salah satu orang paling tajir di Italia yang kaya dari selai cokelat nutella.
Editor: Rahmat Fiansyah