Perusahaan Asing Eksodus dari Rusia, 200.000 Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan
MOSKOW, iNews.id - Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengatakan, 200.000 orang berisiko kehilangan pekerjaan akibat banyaknya perusahaan asing yang eksodus dari Rusia.
Puluhan perusahaan Barat telah meninggalkan Rusia atau menghentikan operasinya di negara tersebut setelah Presiden Rusia Vladimir Rutin memerintahkan melakukan invasi ke Ukraina pada akhir Februari lalu. Banyak perusahaan dijual, kantor tutup, dan produksi mulai dari bir hingga mobil dihentikan.
Sejumlah perusahaan tersebut, termasuk McDonald's yang memperkerjakan 62.000 orang di Rusia, telah berjanji untuk terus membayar pekerjanya, setidaknya untuk jangka waktu terbatas.
Sementara Grup Ingka Swedia, pemilik pengecer IKEA, memiliki 15.000 karyawan di Rusia. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan pada bulan lalu, mereka telah menjamin gaji tiga bulan untuk para pekerjanya. Namun tidak jelas berapa lama perusahaan dapat melakukannya.
Miliarder Ukraina Berharta Rp56 Triliun Janji Bangun Mariupol yang Hancur Digempur Rusia
Sobyanin mengatakan, pemerintah Rusia turun tangan untuk membantu para pekerja tersebut. Pemerintah menyediakan dana sebesar 41 juta dolar AS untuk membantu mereka.
"Program (dukungan) ditujukan kepada karyawan perusahaan asing yang menghentikan sementara kegiatan mereka atau memutuskan untuk meninggalkan Rusia," kata dia, dikutip dari CNN Business, Selasa (19/4/2022).
Inggris Bekukan Aset 2 Oligarki Rusia yang Dekat dengan Abramovich Senilai Rp187 Triliun
Menurutnya, rencana bantuan tersebut meliputi pelatihan, bekerja di pekerjaan sementara dan pekerjaan umum, serta insentif bagi organisasi dan perusahaan untuk mempekerjakan pekerja yang perusahaannya telah keluar dari Rusia atau berhenti beroperasi.
Sanksi Barat telah melumpuhkan ekonomi Rusia dan mendorong negara itu ke ambang default utang luar negerinya. Inflasi telah melonjak dan para ekonom memperkirakan akan terjadi resesi yang dalam.
Putin ke Uni Eropa: Kalian Masih Butuh Gas Rusia, tapi Kami Akan Ekspor ke Asia
Kurangnya akses ke sekitar setengah dari cadangan mata uang asingnya - yang sekarang dibekukan - Rusia berusaha untuk membayar dalam rubel, bukan dolar AS yang ditentukan dalam kontrak, pada dua obligasi yang jatuh tempo di awal April, menurut lembaga pemeringkat kredit Moody's. Rusia memiliki waktu hingga 4 Mei untuk memenuhi kewajibannya atau dapat dianggap gagal bayar, kata lembaga tersebut.
Editor: Jujuk Ernawati