Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rusia Peringatkan AS Tak Serang Iran
Advertisement . Scroll to see content

Perusahaan Asing Eksodus dari Rusia, 200.000 Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan

Selasa, 19 April 2022 - 08:41:00 WIB
Perusahaan Asing Eksodus dari Rusia, 200.000 Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan
Perusahaan asing eksodus dari Rusia, 200.000 orang terancam kehilangan pekerjaan
Advertisement . Scroll to see content

MOSKOW, iNews.id - Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengatakan, 200.000 orang berisiko kehilangan pekerjaan akibat banyaknya perusahaan asing yang eksodus dari Rusia

Puluhan perusahaan Barat telah meninggalkan Rusia atau menghentikan operasinya di negara tersebut setelah Presiden Rusia Vladimir Rutin memerintahkan melakukan invasi ke Ukraina pada akhir Februari lalu. Banyak perusahaan dijual, kantor tutup, dan produksi mulai dari bir hingga mobil dihentikan. 

Sejumlah perusahaan tersebut, termasuk McDonald's yang memperkerjakan 62.000 orang di Rusia, telah berjanji untuk terus membayar pekerjanya, setidaknya untuk jangka waktu terbatas. 

Sementara Grup Ingka Swedia, pemilik pengecer IKEA, memiliki 15.000 karyawan di Rusia. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan pada bulan lalu, mereka telah menjamin gaji tiga bulan untuk para pekerjanya. Namun tidak jelas berapa lama perusahaan dapat melakukannya. 

Sobyanin mengatakan, pemerintah Rusia turun tangan untuk membantu para pekerja tersebut. Pemerintah menyediakan dana sebesar 41 juta dolar AS untuk membantu mereka.

"Program (dukungan) ditujukan kepada karyawan perusahaan asing yang menghentikan sementara kegiatan mereka atau memutuskan untuk meninggalkan Rusia," kata dia, dikutip dari CNN Business, Selasa (19/4/2022).

Menurutnya, rencana bantuan tersebut meliputi pelatihan, bekerja di pekerjaan sementara dan pekerjaan umum, serta insentif bagi organisasi dan perusahaan untuk mempekerjakan pekerja yang perusahaannya telah keluar dari Rusia atau berhenti beroperasi.

Sanksi Barat telah melumpuhkan ekonomi Rusia dan mendorong negara itu ke ambang default utang luar negerinya. Inflasi telah melonjak dan para ekonom memperkirakan akan terjadi resesi yang dalam.

Kurangnya akses ke sekitar setengah dari cadangan mata uang asingnya - yang sekarang dibekukan - Rusia berusaha untuk membayar dalam rubel, bukan dolar AS yang ditentukan dalam kontrak, pada dua obligasi yang jatuh tempo di awal April, menurut lembaga pemeringkat kredit Moody's. Rusia memiliki waktu hingga 4 Mei untuk memenuhi kewajibannya atau dapat dianggap gagal bayar, kata lembaga tersebut. 

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut