Populasi Ternak Mulai Pulih, Harga Sapi Australia Diperkirakan Turun Semester II
MEDAN, iNews.id - Harga daging sapi Australia pada tahun lalu mencapai rekor tertinggi, sehingga menyebabkan impor sapi dari negara tersebut merosot. Namun, harga sapi Australia diperkirakan akan turun pada semester II tahun ini.
Laporan Status Industri Indonesia Australia dalam sektor daging merah dan sapi 2020, yang dipublikasikan Kemitraan Indonesia-Australia tentang Ketahanan Pangan di Sektor Daging Merah dan Sapi (Partnership) menemukan bahwa impor sapi hidup dari Australia ke Indonesia merosot pada tahun lalu karena kenaikan harga sapi bakalan yang menembus rekor tertinggi sepanjang 20 tahun terakhir. Diperkirakan, harga sapi bakalan Australia masih akan tinggi pada tahun ini karena upaya repopulasi yang dilakukan Australia, setelah mengalami kekeringan dalam beberapa tahun ke belakang.
“Saat ini, dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang lebih mendukung, para peternak Australia tengah melakukan repopulasi ternak. Hal ini meningkatkan kompetisi antar peternak, pemasok, ekspotir dan agen lainnya untuk mendapatkan sapi Australia dari sumber populasi ternak yang jumlahnya terbatas pasca kekeringan dan banjir. Hal ini mendorong kenaikan harga ekspor sapi bakalan," ujar Co-chair Partnership dari Australia Chris Tinning di acara webinar Peluncuran Laporan Industri Bersama, Rabu (28/4/2021).
Dia mengatakan bahwa harga sapi yang tinggi dari Australia menimbulkan tantangan bagi industri daging merah dan sapi Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Untuk diketahui, harga sapi Australia pada akhir 2020 mencapai rekor tertinggi, dengan penjualan sebesar 4,18 dolar Australia per kilogram (kg) bobot sapi hidup.
Bulog Jual Daging Sapi Beku Lewat Online, Harga Rp90.000 per Kg Bebas Ongkir
Kenaikan itu terjadi di tengah kondisi pemerintah Indonesia yang menanggapi masalah pasokan dengan meningkatkan kuota impor daging kerbau India sebanyak 80.000 ton untuk tahun ini dan daging sapi Brasil sebanyak 20.000 ton. Namun menurut Chris, harga sapi bakalan Australia akan menurun pada semester kedua tahun ini. Hal tersebut seiring mulai pulihnya tingkat pertumbuhan populasi ternak Australia dan kembali stabilnya jumlah kawanan ternak.
Sementara Co-Chair Partnership dari Indonesia, Riyatno mengatakan bahwa pemerintah Indonesia bertekad memenuhi kebutuhan daging sapi nasional, terutama pada bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri mendatang.
“Pemerintah Indonesia akan berupaya memenuhi kebutuhan daging sapi nasional dengan memperluas pasokan domestik dan juga memperluas akses impor dari negara lain, seperti Meksiko dan Brazil. Namun, saya percaya, Australia akan tetap menjadi mitra terbesar dan pilihan kami di sektor ini," tuturnya.
Editor: Jujuk Ernawati