Tak Hanya Transportasi, Kelangkaan BBM Juga Pengaruhi Sektor Pertanian
JAKARTA, iNews.id - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turut menyebabkan kelangkaan sejumlah jenis BBM di berbagai wilayah. Saat ini, beberapa jenis BBM diketahui mulai hilang di pasaran meliputi Solar dan juga Pertalite.
Hal ini tentu saja dikeluhkan oleh sejumlah masyarakat, tak terkecuali oleh para petani. Mungkin banyak orang yang mengira kelangkaan ini hanya dialami oleh sebagian besar sopir truk, padahal yang terjadi sebenarnya, para petani juga terkena imbas dari kelangkaan ini.
Kepada MNC Portal Indonesia, Dekan Sekolah Vokasi IPB University sekaligus pengamat pertanian, Arief Daryanto bercerita saat dirinya pergi ke Jawa Timur, di mana dia merasakan kelangkaan BBM bersubsidi jenis Solar. Dia pun menyebut, saat datang ke pom bensin, antrean mengular yang tak wajar.
Arief mengemukakan, saat ini aktivitas perekonomian masyarakat sudah mulai meningkat karena adanya pelanggoran PPKM, di mana hal itu juga mendorong aktivitas perekonomian masyarakat.
Menteri ESDM-DPR Sepakat Tambah Kuota Pertalite dan Solar, Segini Besarannya
Dia menyebut, perhitungan alokasi BBM jenis solar untuk berbagai daerah dan juga untuk berbagai keperluan perlu direvisi. Selain itu, menurutnya perlu adanya relaksasi distribusi solar bersubsidi di seluruh Indonesia.
Arief berterus terang bahwa BBM solar bersubsidi sangat penting untuk pertanian, sehingga jika terjadi kelangkaan maka akan berimbas pada produktvitas petani.
Sinyal Harga Pertalite dan Solar Akan Naik Makin Kuat
Misalnya, di kegiatan produksi, penanganan dan penyimpanan pasca panen, pengolahan, lalu kemudian juga distribusi logistik, semua proses itu membutuhkan bahan bakar solar.
Sebagai contoh di sektor produksi, saat ini para petani banyak yang menunggu panen. Kemudian, banyak sawah yang sekarang ini diakhiri dari pompa air. Jika solarnya sulit didapatkan maka pengairan akan terhambat. Lalu, jika pengairan terhambat maka akan terjadi food loss.
Menteri ESDM Beri Sinyal Harga Pertalite dan Solar Akan Naik
Lanjut dipaparkan Arief, contoh lain juga saat pasca panen. Misalnya petani menanam jagung ataupun padi, seringkali petani membutuhkan alat pengering supaya kadar laktosanya itu rendah. Karena jika kadar laktosanya tinggi, maka komoditas yang dihasilkan jadi tidak sehat. Maka dari itu, jika tidak ada solar, alat pengering tidak bisa berfungsi dengan sangat baik.
Kemudian setelah panen, proses selanjutnya adalah pengantaran dari tempat produksi ke gudang penyimpanan. Proses ini membutuhkan jasa logistik. Jika pada proses pengiriman logistik itu terganggu karena alasan sulit mendapatkan solar, maka akan berdampak pada konsumen. Di mana konsumen harus menanggung beban biaya pengangkutan yang lebih tinggi sehingga harga komoditas yang dijual di pasar menjadi lebih mahal.
Jadi ini justru malah menambah volatiliti harga pertanian yang sekarang ini minyak goreng sudah meningkat lalu kemudian BBM meningkat, ditambah lagi komoditas pertanian meningkat.
Dari semua ini yang dirugikan adalah masyarakat luas, karena daya belinya menjadi rendah. Logikanya, saat harga beli meningkat tapi tidak diimbangi dengan kemampuan ekonomi maka daya belinya jadi menurun.
Lebih lanjut, menurutnya, kelangkaan BBM bersubsidi ini perlu check and recheck. Karena diduga ada penyelewengan dari sektor industri. Misalnya, industri kelapa sawit dan pertambangan membeli solar yang bersubsidi itu.
Jika dilihat, pangsa pasar BBM subsidi sebanyak 93 persen, 7 persen sisanya adalah BBM nonsubsidi yang dijual dengan harga keekonomian. Karena berdasarkan data yang ada, penjualan BBM nonsubsidi menurun, sementara penjualan BBM subsidi meningkat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, kelangkaan BBM terjadi karena adanya lonjakan permintaan secara mendadak. Hal ini mengakibatkan antrean di SPBU.
Selain itu, juga dipengaruhi oleh perekonomian di masing masing daerah yang mengalami peningkatan. Akhirnya, kebutuhan akan permintaan BBM menjadi meningkat.
Menurut Arifin, kelangkaan minyak terjadi karena ada persoalan di Rusia dan Ukraina, yang kemudian membuat harga minyak ini tinggi. Meskipun mengalami kelangkaan, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, masyarakat tidak perlu panik.
Pertamina mengklaim sudah mendapatkan jaminan dari pemerintah guna mengawal ketersediaan BBM baik subsidi maupun nonsubsidi di masyarakat.
Kondisi serupa juga diutarakan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir. Erick mengatakan, BBM jenis Pertalite ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Maka dari itu, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir. Hal ini karena sumber BBM (bahan bakar minyak) dalam negeri diyakini dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.
Kontroversi dan pro-kontra terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebenarnya bukan merupakan hal baru yang terjadi di negeri ini. Sejak masa pemerintahan Soeharto hingga Joko Widodo sekarang ini, harga BBM terus merangkak naik.
Hanya Presiden B.J Habibie saja yang tidak pernah menaikkan harga BBM dalam masa kepemimpinannya. Justru, Presiden Habibie diketahui menurunkan harga BBM sebesar Rp200, dari semula Rp1.200 per liter menjadi Rp1.000 per liter.
Gejolak harga minyak dunia diketahui terjadi pada 1998. Saat itu, Indonesia mulai memasuki era Reformasi, sekaligus mengalami krisis moneter. Dalam Jurnal Ekonomi Pembangunan bertajuk Pengaruh Perubahan Harga BBM Terhadap Tingkat Inflasi Indonesia, disebutkan bahwa kritisnya harga minyak berimbas pada kesulitan pemerintah Indonesia dalam memenuhi anggaran pembangunan.
Pemerintah harus memberikan subsidi BBM bagi masyarakat dalam negeri. Hal itu sengaja dilakukan agar masyarakat tidak merasa terberatkan.
Baca pembahasan mengenai Kelangkaan BBM selengkapnya di IDXChannel.com melalui link berikut https://www.idxchannel.com/tag/BBM-Langka.
Editor: Aditya Pratama