Tolak PHK Pegawai di Tengah Corona, CEO Ini Pilih Tak Gajian
SEATTLE, iNews.id - Wabah covid-19 menjadi musibah bagi dunia usaha. Sektor-sektor yang terdampak signifikan dari penerbangan hingga restoran dan hotel mulai merumahkan pegawai.
Gravity Payments, vendor kartu kredit yang berbasis di Seattle menghadapi masalah serupa. Perusahaan yang berhubungan erat dengan restoran tersebut diprediksi kehilangan separuh dari pendapatannya tahun ini karena omzet restoran di AS anjlok.
CEO Gravity Dan Price mengatakan, perusahaannya dihadapkan pada dua pilihan: PHK 20 persen pegawai atau perusahaan bangkrut. Namun, dia menolak kedua pilihan itu dan justru meminta masukan dari pegawai.
"Sebagai CEO, saya tak percaya keputusan top-down. Saya menghabiskan 40 jam untuk bicara dengan tiap pegawai soal kondisi keuangan perusahaan dan meminta ide mereka," kata Dan dilansir Inc, Kamis (2/4/2020).
Dan mengatakan, Gravity selama ini menawarkan jasa pemrosesan kartu kredit untuk restoran berskala UKM. Dia menyebut, pendapatan mitra bisnisnya itu turun 55 persen dalam sebulan terakhir.
"(Penurunan) itu lebih besar daripada peristiwa 9/11 atau saat Resesi Besar," ucapnya.
Dampaknya, Gravity Payment kehilangan pendapatan 2 juta dolar AS per bulan. Jika kondisi tak kunjung membaik, maka perusahaan akan bangkrut dalam empat hingga enam bulan ke depan.
"Saat kami mengabarkan hal ini kepada pegawai, mereka dengan sukarela menawarkan pemotongan gaji, sehingga kita masih bisa bertahan 8-12 bulan ke depan, tanpa ada PHK satu pun," tuturnya.
Nama Dan populer beberapa tahun lalu setelah memotong gajinya sebagai CEO yang saat itu mencapai 1,1 juta dolar AS untuk menaikkan gaji pegawai. Gaji pegawai Gravity minimal 70 ribu dolar AS per tahun, 75 persen di atas UMR di AS yang sebesar 47 ribu dolar AS.
Kini, 200 pegawainya siap gajinya dipotong sementara sebesar 20 persen di tengah Covid-19. Selain itu, Dan juga memutuskan untuk tidak gajian sementara agar Gravity Payments tetap bertahan.
Editor: Rahmat Fiansyah