Transformasi BRI dan Perilaku Masyarakat yang Kian Digital Pascapandemi
SIANG itu, Puti hendak membelikan mainan untuk putra semata wayangnya. Mainan itu sebagai hadiah buat sang buah hati, karena sudah mau diajak ke dokter gigi, pekan lalu. Tadinya, si anak takut untuk memeriksakan giginya. Namun, setelah dibujuk dan dijanjikan untuk dibelikan mainan yang dia suka, si anak pun akhirnya setuju.
Setelah mematut-matut barang yang dipajang di salah satu toko online, pilihan pun jatuh pada sebuah mainan balok karakter robot yang dapat dibongkar pasang.
“Arslan mau yang ini?” ujar Puti bertanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Iya, yang ini aja Bu. Arslan suka,” jawab si buah hati.
BRI Cetak Laba Bersih Rp51,4 Triliun di 2022, Tertinggi dalam Sejarah Perbankan Indonesia
Setelah proses pemesanan selesai, tibalah waktunya untuk membayar pesanan. Saat dicek, ternyata saldo di akun e-commerce-nya tidak mencukupi. Tentu saja Puti harus mengisinya dulu. Dia lantas membuka aplikasi BRImo (BRI Mobile) dan masuk ke menu “dompet digital”. Di situ ada beberapa pilihan, dan Puti pun memilih dompet digital yang sesuai dengan aplikasi e-commerce yang dia gunakan.
Sejumlah nominal dimasukkan, dan tak lama saldo dompet digitalnya telah bertambah. Puti pun dapat menyelesaikan transaksi pembelian mainan untuk putra kesayangannya itu.
BRI Journalist Bootcamp 2023, Kolaborasi BRI dan Insan Pers untuk Tebar Nilai Sosial
Hampir tiga tahun terakhir, Puti sudah jarang berbelanja di toko fisik. Apa-apa barang yang ingin dibeli, cukup lewat toko online. Meski berbelanja secara daring membutuhkan waktu beberapa hari, dari sejak barang dikemas oleh penjual sampai tiba di tangan pembeli, itu tak jadi soal baginya. Pandemi Covid-19 memaksanya agar terbiasa untuk bertransaksi secara cashless alias nontunai. Kebiasaan itu pun terus berlangsung sampai sekarang.
Namun, dia melihat BRI punya tempat sendiri dalam mempermudah proses transformasi digital itu. Terutama setahun belakangan, BRImo telah membantunya dalam banyak hal.
BRI Fellowship Journalism 2023 Dibuka, BRI Kembali Bagi-Bagi Beasiswa untuk Jurnalis!
Pernah satu kali mertuanya kehabisan paket internet. Dia pun lantas mengisikan pulsa telepon seluler orang tua suaminya itu lewat BRImo. Di lain waktu, pernah pula alarm meteran listrik di rumahnya berbunyi sebagai pertanda pulsanya mau habis. Dengan BRImo, dia membeli token pulsa listrik dan masalah pun selesai.
Wartawan Jadi Guru Dadakan dan Ngajar di PAUD, Cara Lain BRI Tebar Inspirasi lewat Pendidikan
“Sebelumnya (transaksi) tidak pernah semudah ini,” ucap perempuan yang bekerja sebagai ASN di Jakarta itu.
Tidak hanya itu, Puti ternyata juga memegang kartu BRIZZI. Uang elektronik dari BRI itu dia pakai saat membayar tol maupun parkir di sejumlah gedung di Ibu Kota. “Pengisian BRIZZI ini gampang sekali, juga bisa lewat aplikasi BRImo,” tutur ibu muda itu.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, menilai tren cashless akan terus meningkat pascapandemi. Sebab, metode tersebut menawarkan pengalaman bertransaksi yang semakin mudah.
“Kendati demikian, kebutuhan uang fisik masih tetap besar, karena sebagian besar transaksi akan tetap memakai uang fisik,” tuturnya, Jumat (17/2/2023).
Menurut Eko, untuk saat ini, baik metode transaksi cashless maupun secara tunai, masih sama-sama diperlukan, dan belum lagi sampai pada tahap yang satu akan meniadakan yang lain. Preferensi transaksi cashless saat ini mayoritas masih dimiliki oleh generasi muda, yang “kantongnya masih lebih tipis” dibandingkan dengan generasi baby boomers. Selain itu, tren ini juga banyak dilakukan oleh kelas menengah atas yang berpendidikan—yang jumlahnya sedikit dibandingkan dengan kalangan bawah.
Eko mengatakan, industri perbankan memainkan peran signifikan dalam mendukung percepatan cashless di kota-kota besar. Persaingan layanan aplikasi online antarbank pun berjalan kompetitif. Namun, untuk kota-kota kecil, dia menilai peran perbankan masih harus terus dibangun. “Apalagi di daerah yang jauh dari pusat ekonomi, sepertinya yang bisa berperan masih sebatas pemerintah,” kata dia.
BRI menjadi salah satu bank yang fokus melakukan transformasi kultur dan digital hingga ke berbagai pelosok Tanah Air. Tujuan utamanya adalah untuk mewujudkan inklusi keuangan yang lebih dekat ke masyarakat. Jika banyak bank yang belum mampu menjangkau desa-desa atau kota kecil, BRI punya kemampuan itu.
Hal ini antara lain terkonfirmasi lewat penelitian berjudul “Adopsi Mobile Banking pada Segmen Milenial Desa: Persepsi dan Niat” oleh Rizqi Maghribi dan Wenny Pebrianti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Pontianak. Hasil riset mereka pada 2021 itu menunjukkan, generasi muda desa di Kalimantan Barat merasakan manfaat dari BRImo. Hal itu selanjutnya memiliki efek langsung pada sikap dan niat perilaku mereka untuk menggunakan aplikasi perbankan tersebut.
“Adopsi layanan mobile banking (BRImo) lebih cenderung diterima di antara para pelanggan yang menganggap sistem tersebut sebagai saluran yang lebih berguna dan efisien untuk mencapai transaksi perbankan,” tulis para peneliti.
Masih menurut penelitan itu, self efficacy (kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan) juga memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku nasabah milenial pengguna BRImo di desa. Alasannya, nasabah yakin bahwa mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, atau kemampuan yang diperlukan untuk mengoperasikan mobile banking itu. Dengan kata lain, BRImo mudah dipahami dan digunakan oleh kaum milenial desa.
Riset tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel berjumlah 100 orang yang berasal dari kalangan milenial di desa-desa Kalimantan Barat. Sampel dalam penelitian itu diambil dengan teknik purposive sampling.
Perubahan perilaku nasabah BRI yang kian digital pascapandemi, juga dibuktikan dengan meningkatnya penggunaan BRImo sepanjang tahun lalu. Volume transaksi lewat super apps alias aplikasi super itu tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2.669 triliun. Adapun jumlah transaksi BRImo pada 2022 mencapai 1,83 miliar transaksi. Sementara jumlah users atau pengguna BRImo melesat sebesar 68,46 persen yoy menjadi 23,85 juta users.
Lalu pertanyaannya, bagaimana cara BRI mencapai itu semua?
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso menuturkan, ada dua perubahan besar yang sudah diraih BRI selama kepemimpinannya, yaitu transformasi digital dan transformasi budaya. Untuk transformasi digital, ada dua yang menjadi sasaran BRI. Yang pertama adalah digitalisasi proses bisnis. Lewat cara itu, aktivitas perseroan menjadi jauh lebih efisien. Sementara sasaran yang kedua adalah mampu menciptakan value atau nilai baru dan model bisnis yang baru.
Sementara transformasi budaya korporasi di BRI diarahkan kepada yang dia sebut performance driven culture. Artinya, kata Sunarso, seluruh insan BRILiaN (karyawan BRI) harus mampu merancang dan merancang kesuksesannya masing-masing. “Semua orang di perusahaan bisa mengeluarkan potensi terbaiknya, dan ini akan kami akumulasikan menjadi potensi terbaik BRI,” ucapnya.
Gaya kepemimpinan di dalam tubuh BRI ternyata berperan penting dalam mewujudkan transformasi budaya dan digital bank pelat merah tersebut pascapademi. Sunarso mengatakan, dia menerapkan kombinasi tiga gaya kepemimpinan dalam mengelola perusahaan sebesar BRI, yaitu instruktif, motivatif, dan inspiratif.
Dia menjelaskan, ada kalanya seorang pemimpin menjadi sangat instruktif terhadap bawahannya, karena sumber daya yang ada di organisasi memang membutuhakan gaya yang semacam itu. Namun di lain waktu, si pemimpin organisasi juga mesti menjadi motivator bagi orang-orang yang dipimpin.
“Ada orang (karyawan) yang sudah paham tentang pekerjaannya, sudah tahu tujuan bersama di perusahaan. Maka tugas seorang pemimpin adalah memotivasi orang-orang ini agar keluar energi mereka untuk diarahkan secara positif untuk mencapai tujuan bersama di perusahaan,” ucap Sunarso.
Dia mengatakan, ada pula orang yang tidak perlu lagi diajari secara detail alias perinci. Mereka ini juga tahu bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Untuk karyawan yang masuk kepada tipe ini, menurut Sunarso, cukup diberi inspirasi. “Jadi, kepada mereka, kami ngomong di taraf yang sangat high level tapi inspiratif, dan kemudian tim kami sudah bisa menjabarkan itu menjadi keinginan mereka untuk menyusun visi perusahaan,” tuturnya.
Dengan kombinasi tiga gaya kepemimpinan tadi, BRI mampu mencetak rekor dengan membukukan laba bersih sebesar Rp51,4 triliun pada tahun lalu. Itu adalah laba tertinggi dalam sejarah perbankan Indonesia sampai saat ini.***
Editor: Ahmad Islamy Jamil