Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Ajak Australia Investasi Pengolahan Tambang Nikel-Emas di RI
Advertisement . Scroll to see content

Upah Buruh hingga Tarif Listrik Jadi Penyebab Indonesia Kalah Saing dengan Vietnam

Selasa, 04 Agustus 2020 - 16:06:00 WIB
Upah Buruh hingga Tarif Listrik Jadi Penyebab Indonesia Kalah Saing dengan Vietnam
Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia. (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan, Indonesia kalah saing dari Vietnam soal investasi. Penyebabnya mulai dari tingginya upah buruh hingga tarif listrik.

Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia menilai, banyak faktor yang menjadi penentu investor untuk menanamkan modal. Dia menyebut upah buruh di Indonesia paling mahal dibandingkan negara-negara ASEAN. Dia mengaku terus memperbaikinya.

"Banyak yang bertanya kenapa di Indonesia di saat negara lain investasi asing menurun, kok kita landai makanya itu yang kita perbaiki," katanya, Selasa (4/8/2020).

Mantan ketua umum Hipmi itu mengatakan, upah minimum di Indonesia paling tinggi di ASEAN. Saat ini, rata-rata upah minimum sekitar 279 dolar AS atau Rp4,1 juta per bulan.

"Sementara itu, rata-rata upah pekerja di Malaysia hanya 268 dolar AS per bulan, Thailand dan Filipina masing-masing 220 dolar AS per bulan, dan Vietnam 182 dolar AS per bulan," ujarnya.

Selain itu, kata Bahlil, harga lahan di Indonesia juga sangat mahal. Belum lagi biaya-biaya lain seperti tarif air dan listrik. Dia menyebut, tarif air di Indonesia rata-rata 0,89 dolar AS atau Rp13.000 per meter persegi, termahal kedua di ASEAN setelah Filipina yang mencapai 1,68 dolar AS per meter persegi.

"Tarif air di Malaysia dan Vietnam lebih murah, yakni hanya 0,53 dolar AS per meter persegi, sedangkan Thailand 0,4 dolar AS per meter persegi," ucapnya.

Sementara biaya listrik juga lebih mahal dibandingkan Malaysia dan Vietnam. Tarif listrik Indonesia senilai 0,07 dolar AS atau sekitar Rp1.000 per kWh, sedangkan Malaysia hanya 0,05 dolar AS per kWh dan Vietnam 0,04 dolar AS per kWh," tuturnya.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut