Wow, Potensi Hasil Laut Maluku 3,9 Juta Ton Senilai Rp117 Triliun
JAKARTA, iNews.id - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, potensi hasil laut Maluku yang berlokasi di zona 3 mencapai 3,9 juta ton dengan nilai sebesar Rp117 triliun.
"Potensi ikan yang bisa ditangkap di zona 3 ini sebesar 3,9 juta ton, dengan nilai produksi sekitar Rp117 triliun," kata dia dalam keterangannya, dikutip Minggu (6/2/2022).
Potensi tersebut karena penerapan kebijakan penangkapan ikan terukur. Penangkapan Ikan Terukur mengubah pendekatan input control menjadi pendekatan output control, di mana pengendalian dilakukan dengan menerapkan sistem kuota penangkapan ikan dan zonasi sehingga pemanfaatan sumber daya ikan dapat sesuai dengan daya dukungnya.
"Melalui penangkapan ikan terukur ini, kita ingin membawa perikanan di tanah air ke dalam era baru yang lebih maju, lebih menyejahterakan, lebih berkeadilan, sekaligus lebih berkelanjutan," ujar Trenggono.
Adapun kuota penangkapan akan diberikan kepada investor, nelayan lokal, dan penghobi. Sedangkan zonasi penangkapan akan dibagi dalam enam zona termasuk di dalamnya zona spawning and nursery ground.
Dari enam zonasi tersebut, zona 03 yang paling banyak mencakup wilayah timur Indonesia. Areanya meliputi WPPNRI 715, 718, dan sebagian 714, yaitu perairan Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur.
Melalui penerapan kebijakan penangkapan terukur di Zona 03, menurutnya, prospek bisnis dari multiplier effect ekonomi diperkirakan mencapai Rp154,44 triliun.
Lebih lanjut dia menuturkan, besarnya potensi yang dimiliki wilayah timur Indonesia merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha maupun kelompok nelayan untuk meningkatkan kesejahteraan.
"Saya berharap potensi perikanan ini bener-bener dilaksanakan di wilayah tersebut. Jadi bisa kita bayangkan kalau semuanya ada di wilayah itu, maka ekonominya pun tumbuh di sana. Ini merupakan trigger untuk pertumbuhan ekonomi di daerah, sehingga tidak Jawa sentris, melainkan menjadi Indonesia sentris," tutur dia.
Editor: Jujuk Ernawati