Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkomdigi Pastikan Tak Ada Transfer Data Kependudukan Indonesia ke AS
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

NEW YORK - Shale oil Amerika Serikat (AS) terus membanjiri pasar dan merontokkan harga minyak mentah di pasar meski Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC) menahan produksinya.

Selama konferensi Oil & Money di London pekan ini, produksi shale oil AS dianggap tetap memiliki prospek positif. Diperkirakan penambahan produksi sumber energi itu akan terus berlanjut.

"Shale oil AS sedang berbalik dan akan menghadapi puncak (produksi) keduanya," kata David Knapp, Kepala Ekonomi Energi di Energy Intelligence, seperti mengutip Marketwatch.com, Jumat (20/10/2017).

AS memiliki dua lapangan shale oil yang menjadi andalan yakni Permian dan Eagle Ford. Kedua lapangan migas itu menghasilkan dua pertiga dari 6 juta barel shale oil dalam satu hari.

Produksi shale oil AS meningkat selama 10 bulan terakhir. Badan Administrasi Informasi Energi AS melaporkan, produksi kembali diperkirakan naik untuk bulan ke-11 atau November hingga mencapai 6,22 juta barel per hari (bph).

Jika ditotal dengan produksi minyak mentahnya, maka produksi AS bisa di atas 10 juta bph di tahun 2018. Salah satu kontraktor terbesar di lapangan Permian, Pioneer Natural Resources Co. bahkan berencana melipatgandakan produksi shale oil dalam 10 tahun ke depan.

"Lapangan Permian begitu besar sehingga akan menjadi sumber kehidupan produksi AS selama bertahun-tahun," ujar Chief Executive Pioneer Tim Dove.

Dove menjabarkan bahwa produksi shale oil di lapangan Permian mencapai 2,2 juta bph pada awal 2017. Namun, diperkirakan akan meningkat menjadi 2,7 juta bph pada akhir tahun dan 3,3 juta bph pada akhir 2018.

Itu meningkat sebesar 23% dan 50 % dalam jangka waktu satu dan dua tahun. "Kami memiliki 20.000-35.000 sumur untuk mengebor areal yang ada. Kami mengebor sekitar 250 sumur setiap tahun," dia berkata.

Produksi shale oil yang pesat di AS terjadi pada saat produsen minyak utama lainnya, seperti OPEC dan Rusia berebut pasar minyak mentah sehingga membanjiri pasokan global. Imbasnya, harga minyak rendah sejak musim panas 2014 hingga sekarang.

OPEC dan Rusia telah bersepakat untuk memangkas produksi hingga akhir Maret 2018 dalam upaya menyeimbangkan pasar. Namun, fakta bahwa pasokan minyak mentah sangat berlebih tak dapat dibantah.

Bagaimanapun, OPEC tampaknya tidak terlalu peduli dengan ancaman shale oil dari AS. Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan, bahwa pasar minyak mentah tengah bergerak secara seimbang, dan industri migas kini mulai merasakan angin segar terhadap hal tersebut.

"Kami memperkirakan permintaan akan melewati 100 juta barel per hari pada 2020 dan mencapai lebih dari 111 juta barel per hari pada 2040," kata Barkindo.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut