Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BI Singgung Pembentukan Mata Uang Digital untuk Awasi Risiko Kripto 
Advertisement . Scroll to see content

Antisipasi Kondisi Ekonomi Global, BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5 Persen

Kamis, 19 Agustus 2021 - 15:31:00 WIB
Antisipasi Kondisi Ekonomi Global, BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5 Persen
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Foto: dok iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Seven Day Reverse Repo Rate (BI7DDR) di kisaran 3,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 Agustus 2021. Selain menahan suku bunga acuan, tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing tetap 2,75 persen dan 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas sistem keuangan di tengah nilai inflasi yang rendah dan mendukung pemulihan ekonomi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Agustus 2021 di Jakarta, Kamis (19/8/2021).

Menurut dia, kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi global maupun domestik. Dari sisi global, Perry menilai pemulihan ekonomi global masih berlanjut.

Namun pemulihan ekonomi global akan lebih terbatas seiring dengan meluasnya penularan varian delta di global. Pemulihan terbatas khususnya terjadi di negara yang tingkat vaksinasinya rendah, seperti India.

"Tapi dengan tetap kuatnya ekonomi di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China diperkirakan menopang prospek ekonomi global," tutur Perry Warjiyo.

Dia menjelaskan, ekonomi global berpotensi tumbuh 5,8 persen tahun ini yang angkanya masih sama dengan proyeksi BI sebelumnya.

Sedangkan untuk dalam negeri, Perry mengatakan, pemulihan ekonomi Indonesia sedikit tertahan pada kuartal III 2021 karena dampak penyebaran Covid-19 varian delta. 

"Pertumbuhan ekonomi Indonesiqa berada di kisaran 3,5 persen-4,3 persen tahun ini. Angkanya lebih rendah dari asumsi APBN 2021 yang mencapai 5 persen," kata Perry Warjiyo.

Sementara, BI mencatat rupiah terdepresiasi 2 persen dibanding akhir Desember 2020. Namun, rupiah tercatat menguat tipis 0,8 persen per 18 Agustus 2021 jika dibandingkan dengan akhir Juli 2021.

"Penguatan rupiah (jika dibandingkan dengan Juli 2021) didorong aliran modal asing dan menurunnya ketidakpastian global," ujar Perry Warjiyo.

Lalu, inflasi diklaim tetap terjaga rendah dan berada di kisaran target BI sebesar 3 persen plus minus 1 persen. Tercatat, inflasi Juli 2021 sebesar 1,52 persen secara tahunan dan 0,08 persen secara bulanan.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut