Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Harga Bitcoin Anjlok 12 Persen dalam Sepekan, Apa Pemicunya?
Advertisement . Scroll to see content

Di Jepang, Hacker Curi Uang Kripto Rp5,7 Triliun

Minggu, 28 Januari 2018 - 16:53:00 WIB
Di Jepang, Hacker Curi Uang Kripto Rp5,7 Triliun
Ilustrasi (Foto: Okezone.com)
Advertisement . Scroll to see content

TOKYO, iNews.id – Keamanan mata uang kripto kembali menjadi sorotan seusai sekelompok peretas (hacker) mencuri salah satu mata uang kripto NEM senilai 46,3 miliar Yen atau setara Rp5,67 triliun.

Dikutip dari CNBC, pencurian tersebut tercatat sebagai salah satu pencurian mata uang digital terbesar di dunia. Apalagi, jumlah tersebut hampir setara 90 persen dari total nilai mata uang kripto NEM yang ada di pasar sebesar 58 miliar Yen atau Rp7,11 triliun. Serangan peratas tersebut membuat perusahaan yang mengelola NEM, Coincheck menghentikan sementara perdagangan mata uang, termasuk penarikan seluruh mata uang kripto kecuali Bitcoin.

Dalam pernyataannya, Coincheck mengatakan akan menanggung penuh kerugian yang dialami sekitar 260.000 pemilik koin NEM dalam bentuk mata uang Yen meskipun waktu dan metode pengembalian masih terus dibahas.

Pencurian tersebut semakin menegaskan kekhawatiran sejumlah pihak, termasuk bank sentral, terhadap keamanan bitcoin dan mata uang kripto lainnya di tengah kegilaan massa terhadap mata uang kripto.

Dua sumber terdekat mengatakan, Otoritas Jasa Keuangan Jepang telah mengirimkan pemberitahuan kepada 30 perusahaan di berbagai dunia yang mengelola koin NEM untuk meningkatkan keamanan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan siber lebih lanjut. Selain itu, otoritas juga tengah mempertimbangkan sanksi administratif kepada Coincheck sesuai ketentuan yang berlaku.

Jepang merupakan salah satu negara yang mengizinkan perdagangan mata uang kripto, namun harus terdaftar. Proses pendaftaran telah dibuka sejak April 2017. Coincheck, salah satu operator mata uang kripto, saat ini sudah mengajukan pendaftaran sejak September lalu tapi masih diproses.

Dalam sebuah jumpa pers Jumat lalu, Coinchek mengatakan koin NEM disimpan di ‘dompet panas’, bukan disimpan di ‘dompet dingin’ yang relatif lebih aman di luar jaringan internet. Presiden Coincheck, Koichiro Wada beralasan perusahaan terkendali masalah teknis dan kekurangan jumlah pegawai.

Pada 2014 lalu, Mt. Gox, salah satu bursa mata uang kripto terbesar di Jepang yang memperdagangkan sekitar 80 persen dari total seluruh bitcoin di dunia mengajukan pailit setelah rugi sekitar 500 juta dolar AS dalam bentuk bitcoin. Baru-baru ini, bursa mata uang kripto di Korea Selatan, Youbit juga ditutup dan mengajukan pailit setelah diretas dua kali selama tahun 2017.

Dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, para pemimpin dunia juga kembali mengingatkan tentang bahaya mata uang kripto. Menteri Keuangan AS Steven Mncuhin khawatir uang tersebut digunakan untuk aktivitas ilegal.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut