Ekonomi Global Rugi 2,5 Triliun Dolar AS Akibat Dampak Covid-19

Rina Anggraeni ยท Rabu, 01 September 2021 - 20:25:00 WIB
Ekonomi Global Rugi 2,5 Triliun Dolar AS Akibat Dampak Covid-19
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Ekonomi global berpotensi menanggung kerugian hingga 2,5 triliun dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp35.625 triliun akibat dampak pandemi Covid-19

"Kita semua tahu bahwa Covid-19 telah merugikan dunia, sangat sangat sayang. Dari sisi kontraksi ekonomi, minus 3 persen dari PDB itu, berarti kerugian ekonomi sekitar 2,5 triliun dolar AS," kata Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, dalam video virtual, Rabu (1/9/2021)

Menurut dia, dampak pandemi Covid-19 yang merugikan membuat banyak negara yang melakukan kebijakan countercyclical pada anggaran keuangannya. Hal itu, ditujukan untuk memerangi pandemi dimana negara hadir untuk melindungi rakyat, menstabilkan implikasi sosial, dan juga memulihkan kembali ekonomi dari dampak Covid-19.

Menkeu mengungkapkan, Pandemi seperti Covid-19 adalah contoh sempurna dari apa yang disebut publik global. Apalagi, varian virusnya terus berubah, mutasi virus ini juga membanjiri semua negara, terlepas dari apakah mereka divaksinasi atau tidak.

"Seperti yang bisa kita lihat pada virus delta ini, seperti yang disebutkan sebelumnya, Indonesia juga mengalami lonjakan Covid aktif ini, terutama pada bulan Juli yang memaksa kita untuk melakukan pembatasan, dan itu pasti akan merugikan kita dalam hal momentum pemulihan karena gangguan virus delta ini," ujar Sri Mulyani.

Dia menambahkan, di tengah upaya pemulihan ekonomi, dunia tetap diperhadapkan dengan pandemi Covid-19 yang perkembangannya tidak pasti dan sangat rumit. Hal itu, juga membuat desain untuk proses pemulihan akibat dampak pandemi Covid-19 menjadi rumit.

"Jadi, jika kita berbicara tentang apakah kita perlu melakukannya bersama, saya pikir itu sangat jelas.  Tapi, seperti yang disampaikan sebelumnya, kami hanya sekuat mata rantai terlemah dalam perang melawan pandemi ini. Itu karena pandemi tidak memiliki yurisdiksi.  Memerangi pandemi tidak dapat dilakukan oleh masing-masing negara, tidak peduli seberapa kuat, seberapa banyak akal, atau seberapa tidak efektifnya," tutur Sri Mulyani. 

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: