Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : IHSG Ditutup Melesat ke Level 7.440 Sore Ini
Advertisement . Scroll to see content

Naik 1,69 Persen, IHSG Bertengger di Level 6.257 

Jumat, 08 Januari 2021 - 16:36:00 WIB
Naik 1,69 Persen, IHSG Bertengger di Level 6.257 
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif pada hari ini berakhir di level 6.257 atau naik 1,69 persen. 
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id –  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif pada hari ini berakhir di level 6.257 atau naik 1,69 persen. Di mana sepanjang pekan ini, indeks bergerak naik 4,66 persen. 

Sejak awal perdagangan dibuka di level 6.190,95 indeks hanya menyentuh level terendahnya di level 6.190,10. Bahkan di sesi kedua indeks tertinggi di level 6.275.74. 

Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan indeks di level 6.257 berarti menembus level baru sehingga bila ada koreksi wajar terjadi yang akan menguji level resistance 6.250.

"Level resistance yang cukup tinggi dan akan diuji. Karena market berharap Januari Effect akan membuat indeks positif," ujar Kiswoyo dalam siaran live 2nd Session Closing Market di IDX Channel di Jakarta, Jumat (8/1/2020). 

Dia menambahkan sentimen positif datang dari rencana vaksinasi yang akan dimulai dan terus disosialisasikan. Pelaku pasar cukup yakin Januari ini menjadi gambaran kondisi 6 bulan ke depan.  

"Sama seperti di AS meskipun bergejolak tapi market aman. Karena masyarakat yakin Biden yang berkuasa. Ini sama juga dengan IHSG di tengah PSBB dan mobilitas masyarakat menandakan optimisme pemulihan ekonomi," katanya. 

Sementara Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi Bahana TCW, Budi Hikmat mengatakan sentimen positif yang dapat mendorong penguatan ekonomi dan pasar modal Indonesia adalah penerapan SWF (sovereign wealth fund) untuk pembiayaan infrastruktur. "Jika implementasi SWF ini dikelola secara berkualitas, kompeten, dan prudent, maka ekonomi dan IHSG akan kembali naik," ujar Budi. 

Sementara, indikator lainnya terlihat dari Currency risk rupiah cenderung menurun malah dengan potensi menguat di bawah 13.500. Harga sejumlah komoditas ekspor seperti CPO, nickel, coal dan karet juga meningkat. Sementara harga komoditas minyak masih negatif. 

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut