OJK Sebut Saat Ini Sudah Berdiri 40 Bank Wakaf Mikro
YOGYAKARTA, iNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan Bank Wakaf Mikro yang didirikan di pesantren sejauh ini sudah mencapai puluhan unit. Kehadiran bank tersebut dinilai akan memperluas akses keuangan bagi masyarakat di level mikro.
"Ini kita sudah masuk ke sekitar 35 sampai 40 Bank Wakaf Mikro yang sudah kita dirikan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat meluncurkan Program Klaster Pembatik Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, dikutip Minggu (18/11/2018).
Menurut dia, manfaat keberadaan Bank Wakaf Mikro sudah mulai terlihat dari para nasabah yang usahanya mulai berkembang. Apalagi nasabah pengusaha mikro juga mendapat pembinaan setelah mendapat pembiayaan.
"Tadi kami lihat pengepakan ini sesuatu hal yang harus kita pikirkan supaya kemasannya semakin bagus, agar bisa diberi merek. Jadi, kita sudah masuk kepada pembinaaan packaging, karena di situ potensinya besar," ujarnya.
OJK Yakin Bank Wakaf Mikro Tidak Gerogoti Lembaga Mikro Lain
Selain itu, kata dia, pengelola bank wakaf sudah mulai masuk ke pemasaran produk usaha mikro nasabah. Masyarakat sudah tahu bahwa produk mereka kualitasnya tidak kalah dari produk yang sudah beredar.
"Sehingga, ini nanti bisa menjadi sumber pengembangan lebih lanjut lagi bagi para pengusaha mikro, kalau sekarang ini mereka tidak ada yang memasarkan mereka sendiri, nanti bagaimana pemasaran ini bisa kita upayakan," katanya.
Wimboh mengatakan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah punya jaringan pemasaran harus dioptimalkan. Selain itu, pemasaran lewat online juga harus dilakukan.
Dia mengatakan, saat ini total nasabah Bank Wakaf Mikro sudah mencapai 7.500 nasabah. Dia yakin jumlah nasabah akan terus bertambah seiring bertambahnya pendirian Bank Wakaf Mikro.
"Sekarang ini di Yogyakarta sudah ada tiga Bank Wakaf Mikro, nanti kalau potensinya ada kita dirikan lagi, kita tidak akan berhenti akan terus kita lakukan, dan ke depan akan kita lihat bagaimana perkembangannya," ucapnya.
Editor: Rahmat Fiansyah