Bahlil Lahadalia Sebut Ada Anomali Permintaan Izin Investasi di Tengah Virus Korona

Suparjo Ramalan ยท Senin, 23 Maret 2020 - 13:51 WIB
Bahlil Lahadalia Sebut Ada Anomali Permintaan Izin Investasi di Tengah Virus Korona

Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia. (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)

JAKARTA, iNews.id - Minat sejumlah pengusaha untuk berinvestasi tetap tinggi di tengah pandemi virus korona. Hal ini bisa terlihat dari maraknya pelaku usaha yang mengurus layanan perizinan investasi secara online.

"Ini agak sedikit anomali, kita pikir di tengah virus korona, tingkat pengusaha dalam mengurus izin menurun, ternyata tidak seperti itu. Pada saat kami memutuskan untuk membuat pelayanan online pertumbuhan (izin) per hari itu meningkat," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, Senin (23/3/2020). 

Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi sejumlah pengusaha, kata Bahalil, pada Senin (23/3/2020) sudah terdaftar di BKPM sebanyak 471. Sedangkan di hari yang sama, tepatnya pukul 11.30 WIB, komitmen pemenuhan pengusaha di Kementerian dan Lembaga tercatat sebanyak 2.893 NIB. 

"Ini real time. Pada hari ini, NIB yang mulai masuk itu 471, kemudian jumlah komitmen, komitmen ini terkait dengan pemenuhan di Kementerian dan Lembaga itu 2.893, per jam 10.30," tutur Bahalil

Tak hanya itu, dia juga menyebut, pihaknya sedang memproses 471 NIB Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dia menyebut, sebanyak 446 NIB yang sudah dikeluarkan BKPM per Senin (23/3/2020). 

BKPM juga mencatat sebanyak 1.501 izin usaha yang keluar pihaknya. Izin usaha tersebut terdiri dari izin jasa usaha konstruksi sebanyak 330 dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) sebanyak 520. Sedangkan izin operasi kurang lebih 584. Sisanya untuk izin usaha yang lain. 

Menurut Bahalil, di tengah keadaan perekonomian seperti sekarang tidak ada cara lain, investasi harus ditingkatkan. Bahkan, Lewat command center yang dibentuk BKPM, Bahlil mengatakan pihaknya akan terus memantau izin-izin apa saja yang saat ini masih terhambat dan kementerian mana yang menyebabkan hambatan tersebut.

Editor : Ranto Rajagukguk