Bappenas: Wisata Halal Bakal Sumbang Devisa Besar
JAKARTA, iNews.id - Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi pelaku utama dalam perekonomian syariah. Pasalnya, penduduk muslim di Indonesia mencapai 12,7 persen dari total populasi muslim dunia.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, potensi segmen industri halal yang dapat dikembangkan oleh Indonesia salah satunya segmen pariwisata halal. Sebab, pariwisata halal saat ini tengah populer dan menjadi fenomena di kalangan pelaku industri pariwisata global.
Saat ini, fenomena muslim traveler tengah digandrungi dan memiliki pengeluaran terbesar dunia pada sektor pariwisata yang besarnya mencapai 120 miliar dolar AS pada 2015. Pada tahun tersebut pertumbuhan wisatawan muslim meningkat hingga 6,3 persen sedangkan wisatawan Indonesia meningkat lebih tinggi hingga 10,3 persen.
Pengeluaran wisata muslim global ini cenderung terus meningkat, mencapai 169 miliar dolar AS pada 2016 dan diperkirakan akan sebesar 283 miliar dolar AS pada 2022. Data pariwisata halal global saat ini menunjukkan Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan turis muslim terbesar dengan pengeluaran mencapai 9,7 miliar dolar AS.
"Sebagai negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau, 300 suku, 746 bahasa dan dialek serta lebih dari 800.000 masjid, Indonesia berpotensi besar untuk terus berkontribusi meningkatkan pendapatan negara melalui moslem friendly tourism," ujarnya dalam diskusi di kantornya, Jakarta (25/7/2018).
Sebagai informasi, Indonesia telah masuk dalam kategori Top 5 Destinasi Pariwisata Halal Dunia dengan penerimaan devisa negara mencapai 13 miliar dolar AS, yang berkontribusi terhadap PDB sebesar 57,9 miliar dolar AS.
Dalam hal ini, telah terjadi peningkatan kedatangan wisatawan Timur Tengah, sebesar 32 persen pada 2016. Pada 2020, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi kontributor terbesar bagi penerimaan devisa negara.
Peningkatan ini merupakan hasil positif dari akselerasi halal tourism di beberapa destinasi wisata Indonesia, seperti Lombok, Padang, Aceh, Bangka Belitung, Jakarta, hingga Maluku Utara. Selain itu, atraksi yang unik serta sarana yang memadai telah mendukung secara signifikan pada peningkatan pariwisata halal.
Jika dibandingkan dengan Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki yang telah mengungguli destinasi pariwisata halal karena telah fokus pada kestabilan segmen pariwisata dan juga ekosistem halal. "Indikator pertumbuhan pariwisata halal mencakup jumlah wisatawan muslim lokal, moslem friendly ecosystem, juga tingkat kesadaran serta kepedulian pada lingkungan sosial," tuturnya.
Faktor kunci pendukung wisata halal di Indonesia, di antaranya adalah dukungan kebijakan dan regulasi, pemasaran dan promosi, serta pengembangan destinasi melalui atraksi aksesibilitas dan amenitas. Selain itu, peningkatan kapasitas pariwisata yang mencakup sumber daya manusia dan industri juga menjadi unsur yang sangat penting.
Editor: Ranto Rajagukguk